Tuesday, March 22, 2022

Pesan Dari Ayah

 
“Uncle, apa menurutmu semua laki-laki kesulitan meninggalkan kisah masa lalunya?” halus terdengar pertanyaan dari wajah lugu keponakanku yang entah tiba-tiba menanyakan hal konyol seperti itu. Padahal, usianya telah menginjak 22 tahun.

“Kenapa kamu bertanya begitu?”

Seperti biasa, aku menjawab pertanyaan dengan pertanyaan. Namun, kali ini bukan hanya karena keisenganku. Aku lebih kepada penasaran dengan pertanyaan yang tiba-tiba muncul itu.

Padahal, ini adalah pagi yang cerah. Cahaya matahari yang mulai naik walau belum terlalu tinggi, terasa begitu hangat menyapu embun di dedaunan. Tapi, keponakanku satu ini malah menanyakan hal tak terduga. Aku yang tengah menyemprot bunga Wijayakusuma di depan teras, jelas bangkit rasa penasarannya. Juga, buncit perutku semakin membesar pertanda udara di dalamnya bertambah. Seolah, dia juga penasaran.

“Ayah dari salah seorang temanku berpesan kepada kami. Waktu itu, kami sedang asik menikmati karya kami berdua. Mendoan hangat dan teh manis di pagi hari. Mungkin, sekitar setengah enam pagi, Uncle.”

“Beliau di tengah bincang kami yang begitu santai, seketika membawa topik berat.”

“Soal kriteria, ayah percayakan padamu seutuhnya. Tapi, ketika kamu menikah kelak pastikan kalian saling mencintai.” Kata keponakanku sembari menirukan intonasi lembut seorang ayah yang berpesan kepada anak perempuannya.

“Bukankah itu nasihat yang bagus, nduk?” tanyaku mengkonfirmasi.

“Paman juga pasti mengucapkan itu kepada sepupumu kelak ketika ia sudah dewasa.” Kataku melanjutkan.

“Akan terasa menyakitkan jika kamu hidup dengan laki-laki yang tidak pernah mencintaimu. Atau, setidaknya dia belum selesai dengan masa lalunya.” Imbuh keponakan perempuanku yang lugu itu.

“Dan Uncle tahu, salah seorang temanku yang lain membenarkan hal itu. Katanya, beberapa kenalannya memiliki suami yang belum selesai dengan masa lalunya. Bahkan, sekali dua meluangkan waktu untuk bertemu dengan orang dari masa lalunya.” Pungkasnya. Matanya berubah. Sedikit lebih tajam dan di sudut masing-masing kelopak matanya terlihat basah.

Tetes air dari daun Wijayakusuma mulai berjatuhan. Kuputuskan berhenti sejenak dan mengajak keponakanku duduk di bangku teras depan rumah.

“Dengar kata pamanmu, Nduk.” Aku mulai membuka percakapan.

“Ada berbagai tipe laki-laki di dunia ini. Di antaranya adalah mereka yang menjatuhkan seluruh hatinya kepada perempuan yang dinikahinya. Laki-laki yang bertanggung jawab atas perkataannya untuk senantiasa melindungi perempuan yang telah ia pilih.”

“Paman harap, kamu juga mendapatkan salah satunya kelak.”

“Ketahuilah, bahwa tidak mungkin seorang laki-laki tidak jatuh cinta kepada perempuan yang setiap pagi membuatkannya kopi.” Kataku dengan penuh penekanan.

“Sedangkan pesan ayah temanmu adalah perkara lain. Paman tidak pernah tahu seberapa sakit dan bahagia kehidupan seseorang. Akan tetapi, daripada kamu menikah saat kalian saling mencintai, menikahlah dengan laki-laki yang sungguh engkau butuhkan.”

“Kenapa begitu,? Karena hidup dengan laki-laki tidak berguna membutuhkan kesabaran. Hidup dengan laki-laki yang tak sungguh kau inginkan butuh kesabaran. Kau harus belajar menghargainya bahkan jika ia hanya memberimu sedikit waktu, sedikit uang, dan sedikit candaan garing. Itu jelas bukan perkara sederhana dan mudah.”

***

“Hhhhmmffffttttt................” suara hembus nafas beratku yang sungguh melegakan.

“Aku pikir, si bocil itu hanya bertanya iseng. Ternyata, sudah ada laki-laki yang membuatnya yakin saat beberapa waktu lalu menanyakan hal konyol itu padaku. Dan lihat sekarang, dia sudah menikah padahal tak lebih dari tiga bulan lalu ia tak percaya pada laki-laki. Hidup memang penuh misteri. Selamat, Keponakan Paman!” kataku dalam hati.

Wednesday, September 8, 2021

Kode Transaksi Pada Nomor Seri Faktur Pajak

 

Dalam memberikan penomoran faktur pajak terdapat pola tertentu yang berupa 16 (enam belas) digit angka. Dua digit pertama menunjukkan jenis transaksi, satu digit berikutnya menunjukkan jenis faktur yang diterbitkan, dan tiga belas digit terakhir menunjukkan nomor seri faktur pajak yang diperoleh melalui pengajuan ke laman resmi DJP yaitu efaktur.pajak.go.id.

Dua digit pertama dapat diisi dengan angka sebagai berikut, beserta penjelasannya.

  • 01. Digunakan untuk penyerahan BKP/JKP yang terutang PPN dan PPN-nya dipungut oleh PKP penjual yang melakukan penyerahan BKP/JKP.
  • 02. Digunakan untuk penyerahan BKP/JKP kepada pemungut PPN bendahara pemerintah yang PPN-nya dipungut oleh pemungut PPN bendahara pemerintah.
  • 03. Digunakan untuk penyerahan BKP/JKP kepada pemungut PPN lainnya (selain bendahara pemerintah) yang PPN-nya dipungut oleh pemungut PPN lainnya (selain bendahara pemerintah).
  • 04. Digunakan untuk penyerahan BKP atau JKP yang menggunakan DPP nilai lain, yang PPN-nya dipungut oleh PKP penjual yang melakukan penyerahan BKP/JKP.
  • 05. Kode seri faktur pajak ini tidak digunakan.
  • 06. Digunakan untuk penyerahan lain yang PPN-nya dipungut oleh PKP penjual yang melakukan penyerahan BKP/JKP serta penyerahan kepada orang pribadi pemegang paspor luar negeri sebagaimana dimaksud dalam pasal 16 E Undang-Undang Pajak Pertambahan Nilai.
  • 07. Digunakan untuk penyerahan BKP/JKP yang mendapat fasilitas PPN tidak dipungut/ditanggung pemerintah (DTP).
  • 08. Digunakan untuk penyerahan BKP/JKP yang medapat fasilitas dibebaskan dari pengenaan PPN
  • 09. Digunakan untuk penyerahan aktiva pasal 16 D yang PPN-nya dipungut oleh PKP penjual yang melakukan penyerahan BKP.

Satu digit berikutnya menunjukkan jenis faktur pajak yang diterbitkan. Bernilai 0 (nol) apabila faktur pajak tersebut normal, dan bernilai 1 (satu) apabila merupakan faktur pajak pengganti.

Sedangkan untuk tiga belas digit terakhir diisi sesuai nomor yang diberikan oleh DJP melalui akun PKP. Angka ini merupakan angka validasi faktur pajak yang tersingkronisasi dengan server DJP sehingga tidak dapat dipalsukan.

 

 

Ditulis oleh Nurul Fauzi, Konsultan Pajak Gunungkidul, D.I. Yogyakarta.

 

Sumber:

1. Ortax.org

2. PER 24/PJ/2012

Saturday, May 1, 2021

Pergi yang Tidak Kembali

"Sungguh? Tante punya anak perempuan namanya Indah? Pasti dia cantik."

Tanya anak laki-laki digendonganku yang matanya dipenuhi cahaya jingga senja. Manis sekali. Entah ada apa hingga aku merasa seolah dia adalah anakku.

"Hmmm...??? Tentu, dia sangat cantik. Kalian pasti akan menjadi teman baik. Itu dia, Indah sedang bersama dengan neneknya. Ibu tante Ika."

Husein adalah anak yang sangat pemberani. Ia mudah sekali akrab dengan orang asing, denganku yang baru sekali bertemu. 

"Kau mendidiknya dengan baik Faizal." kataku dalam hati yang masih berjalan menuju indah dan Ibu.

***


Kenangan bertahun-tahun lalu kembali melintas. Menyapa entah dengan alasan apa. Tiga bulan hidupku tak karuhan. Hanya karena ditinggal laki-laki brengsek tak bertanggung jawab. Hingga akhirnya aku berhasil berdamai dengan diri setelah segala hal dilakukan oleh ibu, ayah, dan seluruh sahabatku.

"Maaf, maaf jika beberapa waktu ke depan aku akan mengganggumu. Kau boleh pergi, tapi setidaknya bantu aku hidup tanpamu. Bertahun-tahun kita berbagi canda tawa dan kini kamu memilih pergi. Aku tak bisa semudah itu kembali hidup seperti sebelum mengenalmmu. Aku mungkin masih akan sering menghubungimu." kataku pada laki-laki yang matanya berkaca-kaca di depanku.

Nampak jelas dia pun menahan tangis dan tak ingin pergi walau satu hal harus membuatnya meninggalkanku.

Masih dengan kedua tanganku yang digenggam olehnya aku melanjutkan pintaku. Pinta seorang wanita yang begitu lemah.

"Dan baru..... baru jika kelak aku berhenti menghubungimu, tandanya aku sudah menyerah. Menyerah dalam mengupayakanmu baik secara nyata maupun dalam doaku. Walau telah tak terhitung jumlahnya doa yang kulangitkan setiap sepertiga malam agar kita dapat menua bersama. Faizal Ramadhan, kelak jika kita akhirnya kembali bertemu, aku ingin kita tetap sebagai teman. Jauh sebelum semua hal itu terjadi kita adalah teman, dan jika ini adalah keputusanmu maka aku juga berharap kita masih tetap sebagai teman." 

Saturday, September 26, 2020

Tahajjud

 

 “Hey,,, Apa kabar?”

“Lama tak jumpa.”

Katamu menyapaku yang tengah duduk menghadap kea rah barat. Tepat di mana matahari berpamitan, tanda malam segera datang.

Aku pun tak menyadari kedatanganmu kala itu. Entah, sudah berapa lama kau melihatku terus menerus dari kejauhan. Memastikan jika orang yang duduk di atas bebatuan Candi Ratu Boko adalah aku. Hingga akhirnya, kau menyapaku dari belakang.

“Hem… Baik. Kau sendiri?”

Tanyaku kembali padamu sembari menatap bias cahaya senja di matamu.

“Oh, tidak. Aku dengan putra laki-lakiku. Itu. Dia sedang berlarian.”

Jawabmu sembari menunjuk anak laki-laki yang tengah berlarian di atas rumput hijau halaman Ratu Boko.  Beberapa meter dari batu tempatku duduk. Dan satu lagi. Kau masih tak nyambung. Maksudku, yang kutanya kabarmu. Bukan kau sendiri atau dengan siapa datang ke tempat ini.

“Namanya Husein. Muhammad Faizal Husein. Kau masih ingat nama itu kan? Nama yang dulu kita siapkan.” Lanjutmu.

“Sebenarnya, bukan itu maksudku. Tapi, tak apa. Nama yang indah untuk anak laki-lakimu.”

“Hah? Oh, aku paham. Iya. Kabarku baik Sa. Selalu demikian.” Akhirnya kau paham tanyaku tanpa aku harus mengulanginya.

Hening sejenak. Udara seolah berhenti, dan menghentikan waktu. Lima tahun sejak pertemuan terakhir kami, dan di tempat ini pula kami dipertemukan kembali.

“Kau sendiri, masih senang dengan senja di tempat ini, Sa?”

“Begitulah. Sedari dulu ini adalah tempat paling nyaman untuk menghabiskan sore hari bukan?” jawabku retoris.

“Benar sekali. Oh iya, sebentar, jangan pergi dulu Sa.”

Tetiba kau berbalik dariku dan aku hanya memandangi punggungmu yang kian menjauh. Sambil terheran-heran apa yang akan kau lakukan. Tapi tak terlalu penasaran.

Bukankah cerita kami telah lama mati?” tanya logikaku mencoba menenangkan hati yang kembali bergemuruh.

Benar. Dia adalah laki-laki itu. Faizal Ramadhan. Laki-laki yang lima tahun lalu berpamitan denganku di tempat ini. Sambil ditonton eloknya warna senja yang perlahan memudar, ia berkata untuk pergi dariku. Entah alasan konyol macam apa yang membuatnya memilih pergi dan meninggalkanku dalam keterpurukan. Dan bagiku, ketika laki-laki memilih pergi maka aku tak perlu tahu alasannya. Itu tandanya dia memang tak lagi berkomitmen apapun denganku. Tanpa komitmen, dan tiada lagi rasa sayang.

Cukup bagiku kata pamit dan kuiyakan. Karena rasa dalam hati manusia laksana pasir dalam genggaman. Sekali kau ambil, perlahan ia runtuh juga. Bahkan, semakin erat kau pegang semakin sulit pula dipertahankan.

“Yang jual sudah ganti anaknya. Katanya ibuknya meninggal karena sakit setahun yang lalu. Semoga rasanya masih tetap enak, Sa. Ini satu untukmu. Aku hanya membeli dua karena Husein tak pernah suka dengan Dawet Ayu.” Katamu yang tiba-tiba saja sudah menawarkan segelas Dawet Ayu padaku.

“Terimakasih.” Singkat jawabku.

“Ngomong-ngomong, apa kau masih sering sholat malam? Dan apakah masih ada namaku di setiap doamu walau hanya dalam kata hati, Sa?”

“Setan apa yang merasukimu wahai Faizal Ramadhan.? Menanyakan perkara seprti itu padaku setelah lima tahun berlalu. Setelah seenaknya saja kau pergi tanpa memberiku alasan apapun. Bahkan, setelah kau punya satu orang buah hati yang manis di sana. Setelah kau meminang seorang wanita sebagai istri, dan kau masih menanyakan hal aneh seperti itu padaku. Di mana akal sehatmu Faizal Ramadhan? Apa yang dirasakan oleh istrimu jika mendengarnya?!”

Dalam hati. Hanya dalam hati. Kalimatku rasanya tertahan di kerongkongan dan tak sampai ke lidah untuk kuucapkan. Dan hanya dalam hati aku bergumam demikian mendengar pertanyaanmu.

Dan waktu kembali hening. Menyisakan udara yang mengisi ruang hampa dan es batu pada gelasku yang terus menguap.

“Apakah kau masih meminta aku menjadi teman hidupmu, Sa? Seperti bertahun-tahun lalu saat kita masih Bersama?” tanyamu lagi.

“Kau benar-benar gila, Faizal Ramadhan. Mana mungkin aku masih mendoakanmu.!” Kali ini akal sehatku mencoba mengambil alih gemuruh di hatiku. Walau, masih tetap tertahan di kerongkongan.

“JIka iya, aku mohon hentikan. Hentikan doa-doamu yang menyebut namaku agar menjadi teman hidupmu. Aku mohon hentikan doa-doa itu di setiap akhir tahajjudmu Ika Nafisa.”

Pintamu dengan intonasi tegas. Sembari mengarahkan matamu yang membiaskan cahaya senja it uke arahku. Tepat ke raut wajahku yang diwarnai tatapan kosong.

“Sa, mungkin ini bukan hal penting dan tak seharusnya kukatakan padamu.”

“Benar. Tak seharusnya kau mengatakan apapun sore ini Faizal Ramadhan. Tak seharusnya kau coba membangkitkan apa yang telah mati di hatiku.” Gerutuku lagi di dalam hati.

“Sa, sepuluh bulan yang lalu. Pas di tanggal ini aku duduk menangis di sudut ruangan sebuah rumah sakit.”

“Aku duduk lemas melihat tubuh bidadariku yang terbujur kaku. Melihat orang yang selama ini kuperjuangkan sepenuhnya demi menutup kenanganku bersamamu telah meninggal.”

“Empat tahun dia dengan sabar meladeni semua kebutuhan hidupku hingga akhirnya membuatku jatuh cinta, Sa.”

“Hatiku mati rasanya Sa. Baru hitungan bulan aku bisa menutup kenangan kita dengan hadirnya dia, kemudian Tuhan begitu saja mengambilnya dariku.”

“Dan kini, tinggalah aku dan Husein di dunia ini. Tak punya siapapun lagi, Sa.”

“Maka, aku mohon padamu hentikan doa-doamu yang menyebut namaku di setiap Tahajjudmu Sa. Tuhan benar-benar tak pernah tidur. Dan aku sungguh tak ingin kembali padamu. Aku tak ingin menyakitimu kedua kalinya. Dengan segala omong kosongku soal cinta. Dengan segala sikap egoisku padamu yang seperti dulu. Aku tak ingin mengulanginya, Sa.”

Gemuruh di hatiku rasanya semakin menjadi-jadi mendengar perkataanmu, Faizal Ramadhan.aku tak menyangka, sesayang itu Tuhan pada hambanya yang terus memanjatkan doa.

Sungguh, hatiku rasanya semakin bergetar. Mendengar semua perkataanmu membuatku hatiku seolah mampu merasakan kesakitan yang pernah kau rasakan. Bahkan, rasanya angin di sekitar tak lagi berhenti. Ia seolah berjalan ke sana ke mari sambil bergemuruh. Seolah mengiringi air matamu yang tanpa sadar terjatuh.

“Ayah, ayah gak papa? Kok ayah menangis? Apa tante ini nakal?”

Mungkin seperti itu yang dikatakan anak laki-laki yang tiba-tiba lari ke arah kami. Ya, itu adalah anak laki-laki yang tadi kau tunjukkan padaku. Dialah Muhamman Faizal Husein. Anak semata wayangmu.

“Gak papa kok ganteng. Ayah sama tante tadi sedang bermain lempar rumput. Nggak sengaja debunya kena mata ayah. Sini tante coba gendong kamu.”

Akhirnya aku membuka mulutku. Mulut yang sedari tadi terdiam dan tak percaya atas yang terjadi di depanku.

Dan justru, bukan tanggapan atas apa yang disampaikan oleh Faizal.

“Nama kamu Husein kan? Nama yang bagus untuk jagoan kecil ayah Faizal. Ayo, tante kenalkan dengan Indah. Anak tante Ika.” Ucapku sembari membawa Husein menjauh dari ayahnya yang sedang terisak.

Yah, tentu aku tahu rasanya. Rasa kehilangan separuh jiwanya. Karena aku pernah merasakan hal itu lebih dari sekali. Pertama, saat Faizal pamit. Kedua, enam bulan lalu ketika ayah Indah juga berpulang.

Friday, April 3, 2020

Bagian Pertama (Pengenalan)

 
Entah kenapa. Malam ini aku terjaga. Di ujung pagi, tatkala manusia lain tengah lelap dengan bunga tidurnya. Nampak pula wajah cerah istriku yang tidur di sisi lain kasur tempat aku terjaga. Raut teduh bak sinar bulan itu tak pernah sedikitpun meredup. Sejak dua puluh tahun lalu, hingga detik ini. Masih sama. Kala aku pertama melihatnya, kemudian jatuh cinta, dan berakhir pada penerimaan ayahnya atasku. Yang masih bukan siapa-siapa. Mungkin, teduhnya raut itu karena ia mampu menjaga wudhu.

Perlahan, kusingkap selimut yang membalut cinta kami agar tak membuat wanita yang dikirim Tuhan itu terbangun. Satu per satu, kaki kuinjakkan ke lantai rumah yang tersusun atas potongan batu granit yang ditata rapi oleh ayah kala itu. Dengan kepala yang masih tertunduk, kuletakkan pula kedua tangan di atas lutut sembari menghembuskan nafas panjang untuk sedikit lebih rileks. "Ada apa ini Tuhan?" Pikirku kala itu. Lama sudah rasanya tak terjaga seperti ini. Beberapa kali kuelus rambut bergelombangku yang agak kaku dan memutih dengan satu tangan. Mencoba menambah rileksnya fikiran yang terjaga di ujung pagi. Kutengok jam di dinding, jarum jam menunjuk ke angka dua dan dua belas. Tepat tiga jam sejak aku memutuskan untuk tidur.

Akhirnya, kulangkahkan kaki menuju kursi yang menghadap meja meja kerja yang di sudut kamar. Kurebahkan tubuh tua ku pada kursi antik buatan ayah yang sudah lama sekali ada di rumah ini.

Masih dengan rasa penasaran, kenapa aku terbangun sedini ini. Kutatap langit-langit, kembali kutundukkan kepala, kutatap lagi langit-langit, kutundukkan lagi, sembari beberapa kali menarik nafas panjang dan menghembuskannya. Rasanya, tak membaik. Masih saja sama, ada yang tidak beres.

Monday, February 3, 2020

Sang Pengganti (Penutup)

 
Ku kira, cerita ini akan panjang. Ber- episode-episode. Nyatanya, harus kututup di sini juga. Pada tempat yang sungguh kuingin datangi dengan seorang yang spesial. Tempat paling tepat menyaksikan mentari berucap salam di ujung hari. Tempat bersejarah, dibalut cerita legenda setempat. Boko. Tumpukan batu saksi pemerintahan di wilayah Yogyakarta yang terletak di perbatasan Gunungkidul dan Sleman itu menjadi saksi. Tempat kita berucap salam sampai jumpa, tanpa tahu takdir Tuhan jumpakan lagi atau kau berlalu tanpa sempat menjadi milikku.

Masih teramat jelas lekuk indah siluet wajahmu kala itu. Kau yang sesekali bergaya di balik lensa kamera ku, membelakangi surya yang tengah berpamit. Mata indah yang bersinar kala membiaskan cahaya surya itu, jelas penuh akan semangat menyambut petualangan baru.
"Jadi, kapan pergi ke ibukota?" Tanyaku sembari berpura baik-baik saja.
"Bulan depan. Empat belas Maret dua ribu dua puluh." Dengan tegasnya kau menjawab.
"Semuanya sudah siap bukan?" Sapaku menyelidiki setiap jengkal apa yang telah kau lakukan demi menyabut tugas barumu. Di tempat baru, jauh dari aku yang masih menunggui kota istimewa ini.
"Sudah." Singkat jawabmu. 
"Syukurlah." Langsung saja kututup tanyaku. Kau tak nampak tertarik sama sekali atas apa yang kubahas.

Sungguh, aku tak pernah berpikir ada tempat istimewa di hatimu untukku. Aku hanya laki-laki sederhana yang mencintai mu tanpa alasan. Tanpa mampu mengungkapkan dengan benar atas rasaku padamu.

Kau yang sejak dua belas bulan lalu datang ke Jogja, meninggalkan kota kembang demi berpetualang di kota istimewa ini, akhirnya pergi juga. Sedang aku, yang dulu berkantor megah di Jakarta, harus menyendiri di Jogja karena mutasi ke cabang perusahaan.

"Terimakasih...." Ucapku membuka kembali percakapan sederhana, kala mentari semakin merendah.

"Kau yang dulu kukenal tanpa sengaja di sudut lapangan Monas. Dengan secangkir kopi hangat, yang semakin menjaga dari dinginnya malam kala itu."


"Kamu, yang dulu sempat berbagi setiap detil cerita di taman Lembang kota Bandung."

"Dan semuanya. Termasuk menyadarkan aku atas apa yang seharusnya kulakukan. Terimakasih."

"Jaga dirimu baik-baik, Rif! Aku yakin, kita akan jumpa lagi." Katamu sembari menatap mataku yang tanpa sadar mulai berair.

"Tentu. Kunantikan saat itu, Tun."

"Dan ini, bawalah. Barangkali, kau butuh saat dingin di kereta." Pesanku sembari mengeluarkan selembar kain dari tas pinggang ku.

"Hanya kain tenun ini yang bisa kuberikan di ujung jumpa kita. Terimakasih, sekali lagi, Tun."

"Sini, kugunakan dulu kain nya untuk mengusap peluh mu. Agar aku yakin kain ini benar darimu. Hahaha," ucapmu sembari memecah suasana yang kian haru.

"Hahahah, jaga baik-baik. Barangkali, ini jadi pengikatmu. Dari aku yang mencintaimu tanpa alasan."

"Hahahah, terimakasih. Akan kusimpan."

"Simpanlah. Jika kita ditakdirkan bersama, ini akan jadi saksi dari jeda jarak di antara kita. Jika tidak, kutitipkan ini untuk anak laki-laki mu kelak. Ucapkan padanya, untuk memberikan kain ini pada perempuan terbaik pilihannya. Dan katakan bahwa ini pemberian dari sahabat ibu."

"Hahah, kau visioner sekali. Tapi, itu lebih baik. Jelas, jika kelak kupakai terlalu sering, akan menjadi pertanyaan dari teman hidupku. Terimakasih."

Akhirnya, perjumpaan itu berakhir. Dengan pesan sederhana, dari aku yang mencintaimu tanpa alasan. Senja pun kian temaram. Perlahan, lalu gelap. Aku dan kamu kembali pulang. Seperti biasa, kuhentikan kendaraan ku di depan gerbang kostmu. Dan kau masuk. Masih dengan senyum dan pamit yang selalu memperbaiki moodku. Sampai jumpa, terimakasih.

Thursday, December 12, 2019

Halu

 
Pagi ini, 12 Desember 2019
Aku halu...
Setiap ku ajak menikmati aroma alam,
Kau menolak

Ku lihat, kau justru pergi ke tempat yang lain
Entahlah, rasaku terus bergejolak
Pagi ini, rasaku kembali tak karuan
Berpikir, menerka, halu, kau sudah ada yang punya

Jelas membekas katamu kala itu,
Datang siang ini ke rumah
Sial. Aku terlalu sibuk kala itu
Demi memuliakan mu!
Kulewatkan siang itu berlalu

Kini aku tinggal menerka,
Sudahkah ada? Kenapa kau tolak ajakanku?
Dan kenapa masih saja kau kirim sandi-sandi rahasia itu?
Logika ku perlahan menghilang
Beriring semakin kuatnya rinduku

Ah sial!
Haruskah sesak itu kurasa lagi?
Saat tahu kau dengan yang lain?
Rasanya, aku sebal dengan diriku sendiri
Yang lidahnya membeku saat didekatmu!

Andai bisa,
Kuingin tuhan berikan waktu untukku
Setidaknya setahun saja
Agar aku mampu muliakanmu,

Ah iya, halu
Tak cuma pagi ini saja,
Tapi, semua itu kurasa, kupikirkan
Setiap hari, setiap malam


Kata-kata ini kurangkai saat aku tak (yakin) bisa merangkulmu (@dsuperboy)

Friday, September 20, 2019

Senja Yang Temaram

 
Kepadamu wahai senja yang sirna jingganya
Sungguh, benar telah kutitipkan seutuhnya
Rasa gelisah yang telah lama tak kurasa
Hanya kepadamu, sekalipun kau tak merasa

Sunday, August 25, 2019

Kalau Memang Tidak Bisa, Jangan Dipaksakan

 

Sore ini Jogja cukup syahdu. Matahari bersinar di akhir pekan, terhalang mendung tipis yang tak menandakan hujan. Rasanya, nikmat untuk bersantai. Sayang aku terlalu mendramatisir banyak hal di dunia ini. Hingga, tiada kabarmu saja mengganggu jalannya hariku. Kalau saja tidak ada sikapmu yang kuanggap teka teki itu, rasanya hidupku sudah hambar.
Tapi, teka teki mu sebenarnya tak membawaku pada hal yang lebih baik juga. Ia justru memenuhi otak dan merusak mood di setiap waktu. Sayangnya lagi, tidak ada orang lain yang menarik dalam hidupku. Sungguh menyedihkan.

"Apa kabar hari ini?" Tanyamu.
"Baik. Bagaimana harimu?" Jawabku.

Dan demikian saja rasanya aku seperti terbang tinggi yang kemudian jatuh ke jurang kekecewaan. Ku rasa, sudah saatnya aku berhenti memprioritaskan kamu di hidupku. Sudah saatnya berhenti memenuhi otakku dengan hal hal yang tidak menyehatkan itu. Sayangnya, aku seketika menjadi balita yang tengah belajar berjalan. Mencoba menguatkan tekad untuk melangkah maju, yang selalu takut terjatuh dan justru kembali mundur.

Padahal, jika jatuh, aku bisa bangkit lagi bukan? Jika akhirnya aku hidup tanpa kamu lagi, tidak ada yang berubah bukan? Semua akan kembali seperti sebelum cerita ini dimulai. Aku akan baik-baik saja sebagaimana pernah melalui hidup di waktu yang lalu. Itu saja.

Ku rasa, kalimat seorang sahabat itu pantas menjadi penguat hidupku. Adalah "Berhenti memperjuangkan yang tidak pasti." Kurang lebih demikian, dan yah. Oke. Detik ini juga aku memulainya. Semua akan kembali seperti sedia kala. Aku tidak punya alasan hidup di titik ini, sendirian. Jika pada akhirnya, dengan tiba-tiba Tuhan kabarkan hal yang aku harapkan sebelumnya, itu adalah hadiah. Sebaliknya, jika memang kita harus menjalani hidup masing-masing, itu tak apa. Belum lama ini juga aku mengalaminya bukan? Dan, memang sedikit iri. Tapi itulah hidup. Itulah tumbuh. Kau butuh kaki yang kuat untuk berlari. Dan kau butuh tulang rusuk yang tangguh untuk menjaga organ vital titipan Tuhan. Tidak ada artinya suatu kaki yang kau idamkan tapi tak pernah mampu membawamu menuju keceriaan. Terimakasih. Sudah menjadi pengganggu dalam tidurku.

Monday, July 8, 2019

May, it's not the right time

 

I still don't know what do you feel
From a few years ago, till now
I just understand that you are so unic
You're so different

I just wanna you to see
In this last few month, i can't stop thinking about you
I feel something different, in the deepest of my heart
I started afraid from loosing you
At the time you look so different than usual,
That feel comes stronger
I'm afraid can't tell you what i feel, and really loosing you
Give me a time to stated what i feel directly,
So everything can be clear

Thanks for comes to me at the  time i really down
Thanks for being my new power at the time i tired
Thanks for being one of my reason so i did that theses
Sure, i'm falling in love with you now.

Thursday, April 11, 2019

Sang Pengganti (Sebuah Kegagalan 3)

 

Ini hari ketiga Al di Bandung, Kota Kembang. Dan masih berkutat dengan bos nya yang belum deal juga soal pekerjaan yang harus dilakukan. Terombang-ambing tak jelas. Setiap melihat ke arah bos nya pun, nampak kosong. Dengan rambut acak-acakan dan kacamata yang sedikit tergantung dari pangkal hidung. Dalam benak Al, mungkin orang jenius penampilannya selalu acak-acakan seperti itu.

"Kriiing....." hanphone Al berdering. Rupanya Atun. Gadis dengan rona merah di pipi saat ia tertawa yang menelpon. Sontak Al mengangkat ponselnya meski di depan si bos.
"Assalamualaikum,"
"Waalikumsalam, Al. Lagi sibuk gak? Ngopi yuk!"
"Aku tanya atasan aku dulu ya. Nanti tak kabarin."
"Oke, ditunggu kabarnya."
"Wassalamu'alaikum."
"Waalikumsalam, Al."

Karena belum deal juga, akhirnya si bos membiarkan Al, si anak baru untuk pergi. Katanya, kalau mulai bekerja akan dihubungi. Al terhitung baru di kantornya. Ia baru bergabung enam bulan lalu. Sebulan setelah menyelesaikan kuliahnya yang molor, langsung nyemplung di kantor nya.

"Jadi, ketemu di mana, Tun?"
"Aku share ya lokasinya. Kita ketemu di situ."
"Oke."

Cafe Toraja. Meski menggunakan nama Kabupaten yang ada di Sulawesi Selatan, cafe tempat mereka bertemu tetap menggunakan desain moderen. Terlihat di sudut ke sudut meja-meja besi dengan atasan kayu yang nampak seratnya masih mengkilap, tanda sama sekali belum ada pengunjung yang datang setelah dibersihkan oleh waitress. Tembok-tembok yang menyajikan bata merah bertuliskan kata-kata sederhana dan artistik pun mengelilingi meja kursi itu. Nampak pula sebuah ruangan kecil tiga kali lima meter dengan pintu kaca yang didesain untuk meeting di salah satu sudut ruangan utama. Layar proyektor dan LCD nampak jelas dari tempat Al menunggu.

"Hai."
"Oh, hai."
"Sudah lama nunggu?"
"Yah lumayan. Sama aja sih. Di hotel juga nganggur. Bisa-bisanya klien belum kasih kepastian gini. Biasanya udah pas sebelum berangkat."
"Haha, ceritain diri kamu lagi donk. Biar aku bisa kenal kamu lebih, Al."
"Hem?"
"Iya. Tentang kamu. Hidup kamu. Cita-cita. Sebelum kamu kerja di sini. Keluarga. Atau apa sajalah."
"Kenapa gak kamu dulu?"
"Karena aku yg minta kamu duluan, Al."
"Ogah ah."
"Yah, lagian hidup aku gak menarik."
"Masa?!"
"Iya. Apa menariknya seorang gadis yang hidup bersama Kakek nenek nya karena broken home?!"
"Ehem? Serius??"
"Tentu. Sudah sejak sekolah dasar."
"Kamu hebat, Tun. Tangguh."
"Apanya?"
"Ya itu. Aku aja kalau ke luar kota agak lama, udah homesick sama ibuk aku."
"Hffftt... Cowok tulen gasih?"
"Hahahaha, serius."
"Mana bisa! Jangan ngada-ada Al!"
"Hahahaha boleh percaya, boleh tidak."
"Masih gapercaya kalau ada cowok melankolis separah itu. Kasihan istri mu besok kalau ditinggal pulang bentar²."
"Hahaha, tentu tidak. Ibuku adalah orang pertama yang mencintai ku. Jauh sebelum aku kenal cinta. Tapi istriku, adalah orang yang paling dicintai ayahnya."
"Maksudmu Al?"
"Ayahnya, mempercayai ku untuk menjaganya. Tidak mungkin aku mengecewakan ayahnya."
"Dih, serius amat Al. Becanda doang."
"Bhahahahah , biarin. Biar kamu tau kalau aku orang baik."
"Aishhhhh... Seperti laki-laki kebanyakan. Buayanya langsung muncul di awal jumpa. Paling satu dua Minggu lagi kamu ketemu aku bawa cewek lain."
"Hahaha, Korban ya neng?"
"Haha, pernah sih."
"Halah, malah kemana ini pembicaraan nya. Em... Boleh dong, besok aku main ke rumah? Kenalin Kakek nenek kamu , Tun?"
"Hmmm.. tentu. Besok aku jemput di hotel kamu ya. Gak jauh kok."

Wednesday, March 27, 2019

Sang Pengganti (Lembang 2)

 

"Ayok! Langsung aja."
"Lah,? Tiketnya gimana Tun?"
"Udah, aku yang urus. Aku sering main ke sini, sampai petugas tiketnya hafal. Jadi, gitu deh.!"
"Bisa ya kayak gitu?"
"Ayok buruan, Al.!"

Atun adalah seorang periang. Sepertinya, hidupnya menarik. Tawa dan senyum di wajahnya saat berbicara membuatku semakin ingin mengenalnya lebih jauh. Dan benar, ini tempat yang bisa meruntuhkan semua stres. Sejuk, dingin, ah tidak. Hangat mungkin lebih tepat. Atau, apalah rasanya. Damai. Yah meskipun banyak pengunjung, tempat ini terlalu luas untuk menampung semuanya. Masih banyak kami jumpai sudut-sudut taman yang kosong. Rainbow Garden. Lembang, awal cerita dimulai.
***

"Sini Al. Foto bareng aku."
"Ok."
"Cekrek..."
"Satu kali saja?"
"Iyalah, buat kenang-kenangan aja. Kan kita kesini mau piknik."
"Okelah, kamu benar."

Satu kali saja. Rasanya aku sudah lama mengenal dia. Bertahun-tahun. Hingga yang ada di pikirannya, seolah aku mengerti. Padahal, baru jumpa dua kali. Mungkin, sebab dia periang. Jadikan kami seolah kawan lama.
***

Menyusuri jalan setapak tempat wisata di Lembang, Bandung dengannya. Udara sekitar jadi bergerak perlahan. Mengalun bagai desiran senar gitar. Mengiringi setiap detik waktu dua insan bercengkrama. Sesekali, tertubruk anak-anak yang tengah berlarian. Tak ingin rasanya waktu berlalu.

"Aku lihat, di sana ada perahu. Bisa itu disewa, Tun?"
"Tentu, ada apa?"
"Sepertinya, melihat suasana dari tengah danau, menarik."
"Boleh, lagipula aku juga belum pernah melakukannya."

Udara bergerak lirih kini tak sendiri. Ia mengiringi kami bersama gelombang-gelombang air danau tersapu dayung. Seketika, tengah danau tujuan kami telah menanti.

"Maaf, ini kacamata minus? Boleh kulepas?" Tanyaku tak sopan, sembari menarik kacamata di wajahnya.
"Ah, tidak kok."
"Benar kan, lebih hening, tenang, dan sejuk. Semoga saja tidak ada hal yang menyebabkan perahu kita terguling. Aku tidak bisa berenang."
"Sungguh? Itu menarik. Kukira, kau orang serba bisa."
"Kamu lihat di sana,? Di sudut itu ada 2 orang anak kecil. Sepertinya kakak beradik. Tenang sekali rasanya melihat sepasang saudara damai seperti itu." kata Ali sembari masih memegangi kacamata milik kawan barunya itu.
"Hahah, dan kau lihat itu? Kakek dan nenek itu duduk di depan secangkir kopi asli daerah sini. Mereka sedang membicarakan tujuh anaknya yang telah menjadi orang. Meskipun, tiada satu pun yang tinggal bersama mereka." seketika perhatian kami tertuju pada salah satu sudut tempat itu. Di sebuah gazebo, di mana sepasang Kakek dan nenek terduduk. Riang, nampak begitu cerah wajah keduanya.
"Kopi lokal? Kau bisa melihat tulisan di cangkir sejauh itu? Dan mendengar percakapan dari jarak sejauh ini?" Ali terheran-heran.
"Tentu."
"Hah? Bohong." Ali masih terheran.
"Ehm...." Sembari tersenyum, Atun, sosok perempuan yang kutemui di sudut lapangan taman Nasional tiga hari lalu, memaparkan segala yang ia tahu, tentang tempat ini. Mulai keluarga tukang penjaga tiket, ibu perawat kebun, mas-mas artisan (peracik kopi) yang di depan, bapak yang membuat tata ruang taman, hingga, Senda gurau Kakek nenek yang selalu menghabiskan satu hari sepekan nya untuk duduk di sudut taman ini. Luar biasa. Atun benar-benar seperti nyawa tempat ini. Segala seluk beluknya ia tau.

"Terimakasih cerita panjangnya Mbak Atun. Sekarang, giliran saya."
"Kamu punya cerita apa memang?"
"Aku tidak akan bercerita. Tapi, aku akan memulai cerita." Sembari membawa topik ringan, Ali mengeluarkan kotak dari ranselnya. Kotak itu transparan. Nampak ada benda kehitaman di dalamnya, dan bergerak-gerak. Ali berpikir bahwa tempat tersebut tepat untuk melepaskan isi kotak itu.

"Wow, kura-kura air tawar? Sejak kapan kau membawanya?"
"Kau telah menceritakan semua tentang tempat ini. Satu hal yang tidak kudengar, adalah di danau ini ada kura-kura. Jadi, biarkan aku melepaskannya, ya?"
"Dengan senang hati. Boleh aku lepas yang satu? Sepertinya ini pasangan." Lalu, mata perempuan itu bersinar. Membuka cakrawala baru, memberi semangat baru dalam dunia Ali. Terbiaskan sinar senja di matanya. "Sungguh, inikah yang disebut pesona senja. Datang tak lama, membuat tak mampu berkata-kata, lalu sirna berganti malam yang gelap." Gumam Ali di pikirannya.

Senja telah berlalu. Lampu-lampu taman mulai bersinar. Dari ujung ke ujung, berurutan menyala dengan delay sepersekian detik, seolah membentuk koreo pertunjukan. Langit telah gelap, dan perahu yang ditunggangi keduanya pun baru saja selesai didayung menepi. Anak-anak yang berlarian tak terlihat lagi. Juga sepasang Kakek nenek tidak lagi di gazebo yang sama. Atun, dan Ali beranjak. Sesaat setelah melepaskan sejoli hewan di danau yang damai itu.

Sunday, March 17, 2019

Politik, Memperbaiki Dengan Tangan Kotor, dan Memilih Dengan Sok Suci

 

Jumpa lagi dengan tahun politik. Dua ribu sembilan belas sebagai tahun ke sekian Indonesia berada pada periode politik. Memilih, dipilih, dan stres. Tiga hal identik dengan orang-orang yang terkait pada kata politik.

Memilih, bagi puluhan juta rakyat Indonesia. Diberi kebebasan menentukan pilihannya, untuk satu pemimpin selama satu periode ke depan. Bebas. Kalau kebanyakan orang memilih yag itu, ya yang itu yang jadi pemimpin. Perkara dalam perjalanan ada permasalahan, bisa demo, lalu lengserkan.

Dipilih, bagi mereka yang mencalonkan diri sebagai pemimpin masa depan. Harta, jiwa, dedikasi, pekerjaan sebelumnya, keluarga, dan segalanya dikorbankan dengan harapan dapat dipilih oleh mayoritas masyarakat lalu menjadi pemimpin satu periode ke depan.

Stres, bagi mereka yang gagal menjadi pemimpin dan bermental lemah untuk menerima kenyataan. Tapi wajar. Bagaimana tidak stres, wong semua sudah dikorbankan? Bisa saja, puluhan, atau ratusan kamar di rumah sakit jiwa berisi ex calon pemimpin. Orang yang waras, bisa saja berpikir, "Untung dia tidak jadi, bisa saja kita dipimpin orang stres." Ada juga yang prihatin.

Tapi, poinnya bukan di situ. Melainkan pada seberapa bersih tangan para calon pemimpin itu. Karena, negara yang mau dipimpin perlu ia perbaiki, dengan di-'sentuh'-nya. Kalau tangan kotor memperbaiki mahkota, silakan terjemahkan hasilnya.

Dari berbagai hal menyebalkan, orang-orang berkata tentang observasi. Untuk memperbaiki 'sesuatu' dengan tepat, Anda harus observasi terlebih dahulu. Dan orang dengan 'tangan kotor' itulah yang telah benar-benar mengobservasi. Mereka memberanikan dirinya masuk ke dalam sistem kotor, yang juga mengotori dirinya. 'Bukan orang yang sok suci dan berkomentar di luar sana, ini salah, seharusnya begini, dan begitu.'

Pada tahun politik ini pula, rakyat banyak yang berganti profesi. Dari yang pengusaha besar menjadi politisi, hingga pengangguran yang menjadi kritikus calon legislatif. Luar biasa efek tahun politik. Efektif mengurangi pengangguran di masyarakat.

Yang menyedihkan, kalau ada orang tak tahu apa-apa seperti saya, turut memberikan framing agar orang-orang memilih pilihan saya. Seolah saya paling tau atas pemimpin paling benar. Kemudian, lawan saya juga mengungkapkan minusnya pilihan saya. Ternyata, seimbang. Jelas, ini hanya akan memberikan kegolputan Nasional. Sebaiknya, hentikan itu. Ungkap saja fakta yang ada, Ndak usah memframing. Biarkan nurani yang memilih, lalu kawal hingga akhir.

Karena, Anda tidak akan pernah bisa memperbaiki 'sesuatu' tanpa menyentuhnya.

Monday, February 25, 2019

Selamat Buat Mbak Lia

 
Selamat buat mbak Lia, satu per satu mimpimu sudah terwujud. Dari punya suami pengusaha, sampai sekarang dengan hadirnya dedek kecil bernama Usman Zayn Ar Rasyd. Putra pertama dengan Mas Afdi. 😀 Dan sekarang, saatnya saya berhenti menonton kesuksesan orang lain serta mengomentarinya.


Monday, February 4, 2019

The Best Moment (2018)

 

2018 is a beautiful story. God give me a lot of experience at that time. I have Left my old life, and getting i'm new. But, in the deepest of my heart, i refuse all of my changes. So God take me return to my real life. At the beginning of that time, letting me to my highest of dreams. All of my plans looks can be reached. Career, brotherhoods, Love, and all of i want to do looks so close to my eyes.

And then, God show the real of my destiny. All of my dreams removed at same time, one by one. I lost of my biggest dream ever. I lost of my brotherhoods. I lost of anything. At the Last, my love was broken!

May, God wanna give me it's Best plan. Maybe not.

God, thanks for everything. You so amazing. You gave me everything by short time, and you take it again as easy as you gave it's.

Now, i just thinking if you want me to be yours only. I'll always being yours, God. No one can take me out from you, the most scholar!

Friday, December 21, 2018

Sang Pengganti (Pengantar 1)

 
Rasa itu hadir, menusuk qalbu dan membawaku terbang tinggi. Ke awan, terus melambung jauh di angkasa. Aku berpikir ini yang mereka sebut cinta. Kurasakan tepat tiga tahun yang lalu. Hanya berawal jabat tangan dan senyum manja. Tak ada yang tahu, hanya aku dan Tuhanku. Dan kini semakin menjadi, setelah ia pergi. Yang dua lusin bulan terus bercerita tentang hidupnya padaku. Sirna, entah dengan siapa. Lalu kamu, masih seperti dulu. Nampak begitu merona, bercahaya, dan selalu memalingkan wajahku dari indah dunia lainnya. Meski doaku telah berubah, engkau secara halus tetap di dalamnya.

Hati ini tak paham lagi. Ia gila, dan tak rasional. Apapun itu, membuatku semakin menjadi. Apa yang ku punya, seolah hanya untukmu seorang. Bahkan, nafas dan ubanku pun ingin ku titipkan padamu jika mampu menambah senyum di bibirmu, walau sedikit.

"Tun, ini sudah malam. Apa kau tak mau masuk?"
"Tidak Ti. Sebentar."
"Baik, nanti dikunci ya pintunya. Uti tidur duluan."
"Iya Ti, selamat malam."

Malam kala kudengar cerita itu, begitu gelap. Sunyi dan membisu. Purnama memang bersinar, tapi angin bergerak begitu lambat. Perlahan menyeringai dedaunan yang kehitaman pertanda tak terjamah cahaya. Desir hati ini pun merobek kesunyian. Bergetar, meledak bak ratusan petasan menyala di malam tahun baru. Aku rindu.

"Entah. Kali ini baru kurasa pertama."
"Apa ini? Rindu begitu mendalam. Kenapa bisa?"
"Dan, kenapa harus padanya? Yang nyaris pasti tak mungkin kumiliki lagi."

Gumamku pada tembok di sisi kanan kiri ku. Tak ada seorangpun di sana.

****

Waktu terus berlalu. Bergulir tak peduli aku yang sendiri. Rindu juga sama. Menyerang, merasuk dalam hati dan jiwaku. Membuat semua yang nyata seolah membisu.

"Saya perhatikan dari jauh, Anda melamun, Mbak?"
"Ini, kopi untuk menghangatkan Mbak."
"Terimakasih mas."
"Sedang menunggu seseorang, Mbak?"
"Hm.. tidak kok mas."
"Langitnya, cerah ya.? Saya suka sekali cuaca malam ini."
"Benar. Pas sekali. Oh iya, Mas namanya siapa?"
"Ali."
"Saya Atun, Mas." Sembari menjabat tangan memecah keheningan malam yang dingin dan membekukan hati.
"Boleh, saya duduk, Mbak?"
"Kenapa tidak?"
"Mbak Sendiri saja datang ke sini?" Sembari merebahkan tubuh di Alun-alun, lalu kumulai basa-basi ku.

Tak jelas memang bahasan kami. Tapi, cukup untuk menghabiskan malam dan tak terasa sudah larut.

"Saya pulang dulu mas. Kalau luang, bisa kita jumpa lagi." Pamitnya sembari meninggalkan kertas kecil bertulis akun sosial medianya.
"Oke Mbak, nggak perlu saya antar kan?!"
"Tidak Mas."

***

Minggu telah berganti. Kunjungan kerja di ibu kota pun usai. Selanjutnya, Kota Kembang Bandung adalah alasan aku kembali berapi-api. Lembang lebih tepatnya.

"Hei!" Terdengar sorak Sorai dari kejauhan seperti memanggilku.
Dan benar, aku yg tengah bercengkrama dengan rekan kerjaku menoleh ke arah datangnya suara itu.
"Atun? Ngapain di Lembang?" Tanyaku.
"Loh? Oh iya, sudah kesana kemari ngobrol tapi belum bilang kalau aku tinggal di Bandung ya."
"Hah? Maksudnya tinggal di Bandung?" Konfirmasi ku.
"Iya Al. Aku orang Lembang, Bandung. Di Jakarta, aku hanya mampir."
"Oh, sini join!"

Kali ini bukan alun-alun yang menjadi latar. Melainkan warung kopi pinggir gedung Asia-Afrika yang menjadi latar jumpaku dengan Atun. Lalu, setelah berkenalan dengan rekan kerjaku, kami bercengkrama. Renyah. Santai, dan hidup. Hingga di ujung bahasan, Aldo, rekan kerjaku pamit kembali ke hotel untuk istirahat. Wajar saja, tiga hari lalu Aldo baru selesai bertugas di Bintan dan kembali ke Jakarta. Sayangnya, karena sedang padat, ia juga dikirim untuk tugas ke Bandung bersamaku.

"Sudah selesai kerjaanmu Al?"
"Belum, ada sedikit problem sih sama klien. Jadi ditunda dulu untuk action nya. Mungkin lusa baru jalan lagi kalau Deal."
"Em, berarti hari ini luang donk?"
"Iya sih, ada apa Tun?"
"Temenin jalan, mau? Aku tunjukin ke kamu tempat yang pas buat beresin stres di Lembang."
"Oke,"


Thursday, December 20, 2018

Fintech, Adaptasi Perkembangan IT atau Kemunduran Ekonomi?

 

Sebuah Narasi, Fauzy Genzo

Fintech agaknya menjadi istilah yang semakin meledak di era milenial ini. Kata yang merupakan akronem dari Financial dan Technology tersebut umum digunakan untuk menyebut aplikasi keuangan khususnya aplikasi untuk pengajuan pinjaman. Baik di Indonesia maupun di Luar Negeri perusahaan di bidang ini terus menjamur.

Perusahaan start up berlomba menciptakan berbagai fasilitas dalam genggaman mengingat penggunaan ponsel pintar terus mengalami kenaikan seperti tertulis di laman kominfo.go.id. Iming-iming kemudahan dalam bertransaksi terutama pengajuan pinjaman menjadikan teknologi keuangan ini dapat berkembang dengan pesat. “Lalu, di mana masalahnya?”

Terkait dengan perdagangan data, biarkan pihak lain yang mengulasnya. Bisnis data memang selalu menarik untuk dilirik. Sayangnya, di sini saya mengajak pembaca sedikit memainkan logika pada perekonomian. Narasi ini berisi sejumlah dugaan dan membiarkan pembaca yang mungkin ‘lebih tahu’ untuk berkomentar di bilah yang tersedia.

Sebenarnya, munculnya metode pembayaran dengan uang elektronik (e-money) memang memudahkan kita dalam bertransaksi. Tanpa perlu mengeluarkan dompet dan uang fisik, atau juga mencari receh untuk kembalian, kita dapat nyaman bertransaksi. Jika ini dilakukan dengan metode transfer antar bank (e-banking) jelas ketika satu rekening bertambah, rekening lainnya akan berkurang.

Setuju?

Lalu bagaimana dengan aplikasi keuangan pihak ketiga? Tidak etis rasanya menyebut merek di sini. Istilahkan saja DO-PAY atau DRAB-PAY dan PAY-PAY lainnya. Misalkan, kita transfer dari rekening Bank A ke akun virtual kita di PAY tersebut, umumnya jumlah yang masuk/keluar itu sama. Rekening Bank A saya berkurang Rp10k, dan rekening virtual saya bertambah Rp10k. jika membayar antar rekening virtual, misal saya beli melalui aplikasi dan membayar dengan PAY tersebut Rp10k, pasti mutasi dalam rekening saya dan rekening lawan transaksi akan berkurang dan bertambah sebesar Rp10k.

Clear?

Lalu, bagaimana dengan perlakuan voucher? Saya sering mendapatkan voucher dalam akun virtual pay saya. Kadang, bisa sampai Rp40k. Kalau saya gunakan jasa kirim dan bayar menggunakan voucher tersebut, apakah kurir juga mendapatkan tambahan Rp40k di rekening virtualnya? Padahal, kalau cash bisa dapat Rp40k berbentuk uang fisik.

“Ya mas, kalau vouchernya 10k, dia pakai jasa saya 11k, yang 10k nanti masuk rekening virtual syaa dan bisa dicairkan di bank.” Kata salah satu agen jasa yang juga teman saya itu.

Adil kan? Tidak ada pertanyaan lagi? Jawabannya, BANYAK!

Lalu, uang siapa yang digunakan untuk mengganti voucher tersebut? Perusahaan penedia PAY? Kalau voucher hanya senilai 40k sih gampang. Lah kalau usernya 1juta, masing-masing menggunakan voucher 4k sudah 4juta sehari lho. Kalau sebulan, sudah 120juta. Tenang, tidak se-ekstrim itu. Kita pakai saja yang 4juta uang perusahaan terpakai untuk mengganti voucher. Ya setidaknya perusahaan harus membayar biaya iklan sebesar itu untuk waktu satu hari.

Empat Juta sehari, dan anggap saja sepuluh hari sebulan berarti 120 hari setahun dikali 4 juta.

Saya yakin manajemen perusahaan pasti memiliki metode income generating yang baik sehingga kecil kemungkinan untuk merugi.

Saturday, August 25, 2018

Teori Dalam Akuntansi

1. Teori Signal (Signaling Theory)
            Menurut Hapyani P, N, yang dikutip dari Ros, dalam membangun signaling teori berdasarkan adanyaassimetric information antara well-informed maneger dan poo-informed stockholder. Teori ini berdasarkan pemikiran bahwa menejer akan mengumumkan kepada investor ketika mendapatkan informasi yang baik, bertujuan menaikan nilai perusahaan, namun investor tidak akan mempercayai tersebut, karena menejer merupakaninterest parti. Solusinya perusahaan bernilai tinggi akan berusaha melakukan signaling pada financial policy mereka yang memakan biaya besar sehingga tidak akan ditiru oleh perusahaan yang memiliki nilai lebih rendah. Hal ini akan menciptakan separating equilibrium yaitu dimana perusahaan yang memiliki nilai perusahan yang lebih tinggi akan menggunakan lebih banyak hutang dan perusahaan yang memiliki nilai yang lebih rendah akan lebih banyak menggunakanequity.
            Kelebihan teori ini adalah kemampuan menjelaskan mengapa terjadi peningkatan harga saham sebagai tanggapan terhadap peningkatanfinancial leverage. Kelemahan dari model ini adalah ketidakmampuan dalam menjelaskan hubungan kebalikan antara profitabilitas dan laveragge. Kelemahan lain adalah tidak dapat menjelaskan mengapa perusahaan yang memiliki potensi pertumbuhan dan nilai intangibleasset tinggi harus menggunakan lebih banyak hutang dari pada perusahaan yang mature (tangible asset tinngi) yang tidak menggunakan hutang, akan tetapi didalam teori diperlukan untuk mengurangi efek dari ketidaksimetrisan informasi.
2. Teori Akuntansi Normatif
Teori normative berusaha untuk membenarkan tentang apa saja yang harus dipraktekkan, misalnya pernyataan yang menyebutkan bahwa laporan keuangan seharusnya di dasarkan pada metode pengukuran aktiva tertentu. Menurut nelson (1973) teori normative hanya menyebutkan hipotesis tentang bagaimana akuntansi seharusnya dipraktekkan tanpa menguji hasil hipotesis tersebut.
Perumusan akuntansi normative mencapai keemasan pada tahun 1950 dan 1960an. pada periode tersebut teori normative lebih berkosentrasi pada :Penciptaan laba sesungguhnya.dan pengambilan keputusa
3. Teori Akuntansi Positif
Teori akuntansi positif berusaha untuk menjelaskan fenomena akuntansi yang diamati didalam masyarakat. dengan kata lain positif accounting theory (PAT) dimaksudkan memprediksi konsekuensi yang terjadi jika manajer menentukan pilihan tertentu. Penjelasan dan prediksi dalam PAT didasarkan pada proses kontrak atau hubungan keagenan antara manajer dengan kelompok lain seperti investor, kreditor, auditor, pihak pengelola pasar modal dan institusi pemerintah.
Teori positif didasarkan pada premis bahwa individu selalu bertindak atas dasar motivasi pribadi (Self seeking motives) dan berusaha memaksimumkan keuntungan pribadi. Pada saat sekarang teori positif menekankan pada penjelasan alasan-alasan terhadap praktek yang berjalan dan prediksi terhadap peranan akuntansi dan informasi terkait dalam kepuasan-kepuasan ekonomi individu, perusahaan, dan pihak lain yang berperan dalam pasar modal dan ekonomi.
Hubungan Teori Akuntansi Positif dan Normatif
            Dalam penjelasan mengenai akuntansi positif tidak dapat dilepaskan dari adanya teori ekonomi normatif. Teori berkembang seiring dengan kebutuhan untuk menjelaskan dan memprediksi realitas praktik-praktik akuntansi yang ada dimasyarakat what it is ( Watts dan Zimmerman).
Dapat disimpulkan bahwa hubungan teori akuntansi normative dan teori akuntansi positif yaitu teori akuntansi positif pada dasarnya merupakan alat untuk menguji secara empirik asumsi-asumsi yang dibuat oleh teori akuntansi normative. Karena pada dasarnya teori normatiof merupakan pendapat pribadi yang subyektif yang tidak dapat diterima begitu saja dalam menentukan keputusan.
4. Teori keagenan (Agency theory)
Teori keagenan merupakan basis teori yang mendasari praktik bisnis perusahaan yang dipakai selama ini. Prinsip utama teori ini menyatakan adanya hubungan kerja antara pihak yang memberi wewenang yaitu investor dengan pihak yang menerima wewenang (agensi) yaitu manajer.
Pemisahan pemilik dan manajemen di dalam literatur akuntansi disebut dengan Agency Theory (teori keagenan). Teori agensi mendasarkan hubungan kontrak antara pemegang saham/pemilik dan manajemen/manajer. Menurut teori ini hubungan antara pemilik dan manajer pada hakekatnya sukar tercipta karena adanya kepentingan yang saling bertentangan.
Hubungan antara principal dan agent dapat mengarah pada kondisi ketidakseimbangan informasi (asymmetrical information) karena agent berada pada posisi yang memiliki informasi yang lebih banyak tentang perusahaan dibandingkan dengan principal. Dengan asumsi bahwa individu-individu bertindak untuk memaksimalkan kepentingan diri sendiri, maka dengan informasi asimetri yang dimilikinya akan mendorong agent untuk menyembunyikan beberapa informasi yang tidak diketahui principal.
Salah satu cara yang di gunakan untuk memonitor masalah kontrak dan membatasi perilaku opportunistic manajemen adalah corporate governance. Prinsip-prinsip pokok corporate governance yang perlu diperhatikan untuk terselenggaranya praktik good corporate governance adalah; transparansi (transparency), akuntabilitas (accountability), keadilan (fairness), dan responsibilitas (responsibility). Corporate governance diarahkan untuk mengurangi asimetri informasi antara principal dan agent yang pada akhirnya diharapkan dapat meminimalkan tindakan manajemen laba.
5. Teori  Kontrak
Karakteristik teori kontrak perusahaan sebagai hubungan hukum (koneksi) dari hubungan kontrak antara pemasok dan konsumen dari faktor produksi. Perusahaan itu ada karena kurangnya biaya individu untuk bertransaksi (atau kontrak) melalui organisasi pusat dari pada melakukannya secara individual (godfrey:2010,hal 361). Dengan adanya perspektif penghubung kontrak terhadap perusahaan teori biaya kontrak melihat peran informasi akuntansi sebagai pengamat dan penegak atas kontrak – kontrak ini untuk menurunkan biaya agensi dari konflik kepentingan tertentu. Suatu konflik yang mungkin muncul adalah konflik kepentingan antara pemegang obligasi dan pemegang saham dari perusahaan terhadap utang yang ada. Jadi teori biaya kontrak berasumsi bahwa metode akuntansi dipilih sebagai bagian dari pemaksimalan kesejahteraan. Biaya kontrak mencakup biaya transaksi, biaya agensi, biaya informasi, biaya negosiasi ulang, dan biaya kepailitan (Belkaoui,2004:hal 188-189).
6. Teori Sintaksis
Teori ini berhubungan dengan struktur proses pengumpulan data dan pelaporan keuangan. Teori sintaksis mencoba menerapkan praktek akuntansi yang sedang berjalan dan meramalkan bagaimana para akuntan harus bereaksi terhadap situasi tertentu atau bagaimana mereka akan melaporkan kejadian-kejadian tertentu.
Interpretasi teori akuntansi atas dasar sintaksis dapat digambarkan sebagai berikut: input semantik dalam sistem tersebut adalah transaksi dan pertukaran yang dicatat dalam jurnal dan buku besar perusahaan. Tranaksi tersebut kemudian dimanipulasi (dibagi dan dijumlah) atas dasar alasan dan asumsi-asumsi akuntansi kos historis. Contohnya akuntan menganggap bahwa inflasi tidak perlu dicatat dan nilai pasar (nilai wajar) aset dan utang dihiraukan. Akuntan kemudian menggunakan konsep pembukuan berpasangan (double entry) dan prinsip-prinsip akuntansi kos historis untuk menghitung laba dan rugi serta neraca saldo. Dalil atau prinsip individu diverifikasi setiap saat laporan keuangan diaudit, dengan cara mengecek kebenaran perhitungan dan manipulasi. Dengan cara ini, akuntansi kos historis telah dipraktekkan sejak dahulu sampai sekarang
7. Teori Interpretasional (semantis)
Teori ini berkonsentrasi pada hubungan antara gejala (obyek atau kejadian) dan istilah atau simbol yang menunjukkannya. Teori-teori yang berhubungan dengan interpretasi (semantik) diperlukan untuk memberikan pengertian dalil-dalil akuntansi yang bertujuan meyakinkan bahwa penafsiran konsep oleh para akuntan sama dengan penafsiran para pemakai laporan akuntansi.
Teori interpretasi memberikan interpretasi yang berguna terhadap konsep buatan dan menilai prosedur akuntansi alternatif berdasarkan interpretasi. Contoh penerapan teori interpretif adalah sebagai berikut: pengukuran nilai persediaan pada saat ini, langkah pertama adalah menunjukkan sub konsep untuk menerapkan aturan interpretasi khusus. Jika harga beli berlaku yang dipilih maka current value dapat didefinisikan sebagai harga tukar untuk suatu barang di pasar pembelian pada tanggal neraca. Jika harga pasar tidak ada dapat dianggap, harga pasar tidak layak pakai, maka alternatifnya adalah menilai prosedur akuntansi lain yang tersedia dalam kondisi interpretasi ini.
Pembuktian teori ini dapat diperoleh dari riset yang dilakukan untuk menentukan apakah pemakai informasi akuntansi memahami makna yang dimaksudkan oleh pembuat informasi, apakah telah konsisten dengan teori yang ada.
8. Teori Perilaku (pragmatik)
Teori ini menekankan pada pengaruh laporan serta ikhtisar akuntansi terhadap perilaku atau keputusan. Penekanan dalam perkembangan teori akuntansi adalah penerimaan orientasi komunikasi dan pengambilan keputusan. Sasarannya pada relevansi informasi yang dikomunikasikan kepada para pengambil keputusan dan perilaku berbagai individu atau kelompok sebagai akibat penyajian informasi akuntansi serta pengaruh laporan dari pihak eksternal terhadap manajemen dan pengaruh umpan balik terhadap tindakan para akuntan dan auditor. Jadi, teori perilaku mengukur dan menilai pengaruh-pengaruh ekonomik, psikologis, dan sosiologis dari prosedur akuntansi alternatif dan media pelaporannya.

Dikutip dari:
http://juhartin.hol.es/sia/teori-teori-akuntansi/

Apa itu Leverage ?

Leverage adalah penggunaan aset dan sumber dana (source of funds) oleh perusahaan yang memiliki biaya tetap (beban tetap) dengan maksud agar meningkatkan keuntungan potensial pemegang saham (Sartono, 2008:257). Leverage adalah suatu tingkat kemampuan perusahaan dalam menggunakan aktiva dan atau dana yang mempunyai beban tetap (hutang dan atau saham istimewa) dalam rangka mewujudkan tujuan perusahaan untuk memaksimisasi kekayaan pemilik perusahaan.

Berikut ini beberapa pengertian leverage dari beberapa sumber:
  • Menurut Irawati (2006), leverage merupakan suatu kebijakan yang dilakukan oleh suatu perusahaan dalam hal menginvetasikan dana atau memperoleh sumber dana yang disertai dengan adanya beban/biaya tetap yang harus ditanggung perusahaan. 
  • Menurut Fakhrudin (2008:109), leverage merupakan jumlah utang yang digunakan untuk membiayai / membeli aset-aset perusahaan. Perusahaan yang memiliki utang lebih besar dari equity dikatakan sebagai perusahaan dengan tingkat leverage yang tinggi. 
  • Menurut Sjahrial (2009:147), leverage adalah penggunaan aktiva dan sumber dana oleh perusahaan yang memiliki biaya tetap (beban tetap) berarti sumber dana yang berasal dari pinjaman karena memiliki bunga sebagai beban tetap dengan maksud agar meningkatkan keuntungan potensial pemegang saham. 
  • Menurut Syamsuddin (2001:89), leverage adalah kemampuan perusahaan untuk menggunakan aktiva atau dana yang mempunyai beban tetap (fixed cost assets or funds) untuk memperbesar tingkat penghasilan (return) bagi pemilik perusahaan.

Dikutip dari :
https://www.kajianpustaka.com/2016/11/pengertian-dan-jenis-jenis-leverage.html?m=1

Tertarik dengan layanan kami?
Dapatkan selalu informasi terbaru !