Wednesday, March 27, 2019

Sang Pengganti (Lembang 2)

 

"Ayok! Langsung aja."
"Lah,? Tiketnya gimana Tun?"
"Udah, aku yang urus. Aku sering main ke sini, sampai petugas tiketnya hafal. Jadi, gitu deh.!"
"Bisa ya kayak gitu?"
"Ayok buruan, Al.!"

Atun adalah seorang periang. Sepertinya, hidupnya menarik. Tawa dan senyum di wajahnya saat berbicara membuatku semakin ingin mengenalnya lebih jauh. Dan benar, ini tempat yang bisa meruntuhkan semua stres. Sejuk, dingin, ah tidak. Hangat mungkin lebih tepat. Atau, apalah rasanya. Damai. Yah meskipun banyak pengunjung, tempat ini terlalu luas untuk menampung semuanya. Masih banyak kami jumpai sudut-sudut taman yang kosong. Rainbow Garden. Lembang, awal cerita dimulai.
***

"Sini Al. Foto bareng aku."
"Ok."
"Cekrek..."
"Satu kali saja?"
"Iyalah, buat kenang-kenangan aja. Kan kita kesini mau piknik."
"Okelah, kamu benar."

Satu kali saja. Rasanya aku sudah lama mengenal dia. Bertahun-tahun. Hingga yang ada di pikirannya, seolah aku mengerti. Padahal, baru jumpa dua kali. Mungkin, sebab dia periang. Jadikan kami seolah kawan lama.
***

Menyusuri jalan setapak tempat wisata di Lembang, Bandung dengannya. Udara sekitar jadi bergerak perlahan. Mengalun bagai desiran senar gitar. Mengiringi setiap detik waktu dua insan bercengkrama. Sesekali, tertubruk anak-anak yang tengah berlarian. Tak ingin rasanya waktu berlalu.

"Aku lihat, di sana ada perahu. Bisa itu disewa, Tun?"
"Tentu, ada apa?"
"Sepertinya, melihat suasana dari tengah danau, menarik."
"Boleh, lagipula aku juga belum pernah melakukannya."

Udara bergerak lirih kini tak sendiri. Ia mengiringi kami bersama gelombang-gelombang air danau tersapu dayung. Seketika, tengah danau tujuan kami telah menanti.

"Maaf, ini kacamata minus? Boleh kulepas?" Tanyaku tak sopan, sembari menarik kacamata di wajahnya.
"Ah, tidak kok."
"Benar kan, lebih hening, tenang, dan sejuk. Semoga saja tidak ada hal yang menyebabkan perahu kita terguling. Aku tidak bisa berenang."
"Sungguh? Itu menarik. Kukira, kau orang serba bisa."
"Kamu lihat di sana,? Di sudut itu ada 2 orang anak kecil. Sepertinya kakak beradik. Tenang sekali rasanya melihat sepasang saudara damai seperti itu." kata Ali sembari masih memegangi kacamata milik kawan barunya itu.
"Hahah, dan kau lihat itu? Kakek dan nenek itu duduk di depan secangkir kopi asli daerah sini. Mereka sedang membicarakan tujuh anaknya yang telah menjadi orang. Meskipun, tiada satu pun yang tinggal bersama mereka." seketika perhatian kami tertuju pada salah satu sudut tempat itu. Di sebuah gazebo, di mana sepasang Kakek dan nenek terduduk. Riang, nampak begitu cerah wajah keduanya.
"Kopi lokal? Kau bisa melihat tulisan di cangkir sejauh itu? Dan mendengar percakapan dari jarak sejauh ini?" Ali terheran-heran.
"Tentu."
"Hah? Bohong." Ali masih terheran.
"Ehm...." Sembari tersenyum, Atun, sosok perempuan yang kutemui di sudut lapangan taman Nasional tiga hari lalu, memaparkan segala yang ia tahu, tentang tempat ini. Mulai keluarga tukang penjaga tiket, ibu perawat kebun, mas-mas artisan (peracik kopi) yang di depan, bapak yang membuat tata ruang taman, hingga, Senda gurau Kakek nenek yang selalu menghabiskan satu hari sepekan nya untuk duduk di sudut taman ini. Luar biasa. Atun benar-benar seperti nyawa tempat ini. Segala seluk beluknya ia tau.

"Terimakasih cerita panjangnya Mbak Atun. Sekarang, giliran saya."
"Kamu punya cerita apa memang?"
"Aku tidak akan bercerita. Tapi, aku akan memulai cerita." Sembari membawa topik ringan, Ali mengeluarkan kotak dari ranselnya. Kotak itu transparan. Nampak ada benda kehitaman di dalamnya, dan bergerak-gerak. Ali berpikir bahwa tempat tersebut tepat untuk melepaskan isi kotak itu.

"Wow, kura-kura air tawar? Sejak kapan kau membawanya?"
"Kau telah menceritakan semua tentang tempat ini. Satu hal yang tidak kudengar, adalah di danau ini ada kura-kura. Jadi, biarkan aku melepaskannya, ya?"
"Dengan senang hati. Boleh aku lepas yang satu? Sepertinya ini pasangan." Lalu, mata perempuan itu bersinar. Membuka cakrawala baru, memberi semangat baru dalam dunia Ali. Terbiaskan sinar senja di matanya. "Sungguh, inikah yang disebut pesona senja. Datang tak lama, membuat tak mampu berkata-kata, lalu sirna berganti malam yang gelap." Gumam Ali di pikirannya.

Senja telah berlalu. Lampu-lampu taman mulai bersinar. Dari ujung ke ujung, berurutan menyala dengan delay sepersekian detik, seolah membentuk koreo pertunjukan. Langit telah gelap, dan perahu yang ditunggangi keduanya pun baru saja selesai didayung menepi. Anak-anak yang berlarian tak terlihat lagi. Juga sepasang Kakek nenek tidak lagi di gazebo yang sama. Atun, dan Ali beranjak. Sesaat setelah melepaskan sejoli hewan di danau yang damai itu.

No comments:
Write comments

Tertarik dengan layanan kami?
Dapatkan selalu informasi terbaru !