anaktanitepus Karena Ada Kehidupan Lain Setelah Mati.

Melihat Dari Berbagai Sisi

Do you like our work so far?
Let's talk about your project !

GET IN TOUCH

Portfolio


Main Blog
Our Recent Posts

Tuesday, October 24, 2017

Purwokerto, Aku Kembali Belajar Tentang Cinta


Aku hidup telah cukup lama. Setidaknya sekitar 21 tahun atau 1/3 + 1 tahun usia normal umat islam yang pernah disampaikan oleh para alim ulama yang berdakwah itu. Tepat pada 23.30 aku menuliskan cerita konyolku hari ini. Tentang cinta dan rindu serta perjuangan yang aku merasa tak dihargai walau hanya sedikit.
Kali ini aku belajar banyak tentang cinta, satu kata berjuta makna yang sering kugunakan saat mengungkapkan tinta hitam yang membekas di dalam hati. Satu kata yang juga memiliki arti kebalikan yang tak mungkin dipisahkan darinya. Adalah “jika kau berani jatuh cinta, maka berarti kau harus siap merasakan lara”. Setidaknya itu yang ada dalam otak dan membekas di sudut hatiku. Dan itu benar.
Adalah perjalananku ke sebuah kota di Indonesia yang sebelumnya pernah kujumpai walau dengan gaya santai tanpaada perencanaan. Dan kali ini berbeda dengan “kala itu”, karena ini terencana. Tepatnya adalah sebuah instansi yang tengah mekar dan naik daun di kalangannya. Instansi yang naik daun sejak 7 tahun lalu akibat tingkah laku penguasa tak bertanggung jawab yang berhasil mendidik mereka menjadi yang dikenang. Di instansi itulah aku belajar tentang cinta ini.
Satu, bahwa yang disebut dengan cinta adalah karakter. 
Aku selalu berkata hal yang sama kepada orang-orang yang ku-cinta-i itu bahwa, “cari yang mau(belajar), bukan yang mampu”. Dan ternyata di instansi ini aku mendapat pembenaran. Karena bahwa gelas yang berisi karakter itu akan dapat diisi skill tinggi yang mampu mengalahkan mereka yang mengisinya. jauh lebih baik daripada gelas yang terisi penuh (read: yang mampu). Dan di sini juga aku merasa benar jikalau aku selalu memilih mereka yang merasa sendiri dan tak terpegang, daripada mereka yang selalu terpegang dan tertanam di dalam jiwanya sebagai yang diutamakan.
Yap. Untuk mampu membangun suatu pondasi yang kokoh dalam suatu organisasi adalah dengan memanfaatkan mereka yang berkarakter. “Jujur itu ada dari dalam diri dan tak mungkin diciptakan dari luar.” Setidaknya itulah yang selalu membuatku percaya kepada mereka yang merasa “terasingkan” (read: minder).
Dua, bahwa pendidikan itu penting demi adanya “stabilitas”.
Aku adalah actor karbitan dalam serial drama cinta di Yogyakarta ini. Setidaknya 3 tahun yang lalu aku memulai karirku sebagai actor karbitan yang sebenarnya tidak terlalu mau belajar juga. Tapi entah, beberapa waktu lalu ada suara yang kembali memanggilku mengabdi pada nama yang memberiku luka mendalam itu.
Syukurilah, kalian yang pernah merasakan nikmatnya sebagai Staff (read: operasional), atau sebagai Junior (read: asisten). Kenapa? Jelas karena kalian bukanlah seorang karbitan sepertiku, kalian ada di jenjang yang tak kulalui dan kalian memiliki kompetensi dasar/pondasi yang jauh lebih kokoh dariku. Inilah hal kecil yang memaksaku menyesal telah melalui hal konyol akibat permasalahan ekonomi yang sebenarnya bias diatasi itu.
“andai aku bisa, aku akan kembali pada saat itu dan lebih berjuang. mungkin aku dapat lebih baik di titik ini”. Tapi waktu takkan mengizinkanku. Ia takkan mengizinkanku untuk kembali, karena memang sudah memastikan bahwa semua itu harus jadi penyesalan bagiku. 
Entah, saat ini aku merasa aneh dan gila, karena seolah tak mampu menjadi teman yang baik dalam mendampingi belajar. Jika menuntut ilmu dariku, jelas anda salah. Karena saya sampai saat ini (masih) buka orang berilmu. Saya hanya bisa mendampingi dalam pembelajaran karena memang ilmu itu telalu kompleks untuk saya kuasai.yang terpenting dalam hal ini adalah, “jika anda lelah, butuh bahu, jika anda bosan, butuh telinga sebagai pendengar, atau jika anda marah, butuh tempat mengadu, saya takkan pernah hilang”. Scroll saja kontak di handphone-mu dengan namaku, dan aku pasti akan menjadi semua itu untukmu. Karena bagiku, menjadi tempat bercurah lelah adalah bahagia.
Ketiga, belajar manajemen personalia kepada PMSM Yogyakarta.
Salah satu ilmu yang membuatku sangat tertarik untuk terus menyelam adalah psikologi. Ini seperti mendengarkan cerita hati orang lain, dan belajar memahami apa yang sebenarnya ada di dalam dirinya. Entah, tapi aku suka. Beberapa kali di sini disebut “generasi millennial” yang aku masih berlum terlalu paham akannya. Yang jelas, dia adalah “yang mengutamakan eksistensi diri (dikenal luas) daripada harta/materi”. Generasi unik yang entah seperti apa track recordnya kelak.
Keempat, kompetensi setiap jenjang adalah sama dan terukur. Jika terdapat yang lebih baik, maka dia unggul.
Apa maksudnya? Kau telah melewati pendidikan. Seharusnya kau memiliki ilmu yang seharusnya kau dapat di sana. Jika ilmu yang kau miliki melebihi dari itu, berarti kau unggul. Kau istimewa. Dan kau, tak layak untuk berhenti, apalagi mundur. Hal paling menyedihkan memang adalah mundur/pulang sebelum berperang. Dan aku tak ingin mengulangi kesalahan itu lagi. Karena apa? Karena kamu terlalu berharga untuk kutinggalkan
Ingat, syaratnya satu. Presiden takkan baik di mata seluruh rakyatnya, apalagi orang-orang sampah sepertiku. Pastikan kau mendukung yang kulakukan jika kau memang menggunakan hati dalam menentukan rindumu. Aku pasti akan berada pada waktu membuatmu kecewa, tapi buatlah aku tetap istimewa. Seperti saat pertama hatimu memilihku, dan bukan seperti saat aku seperti sampah di matamu.
“Jika kau masih tak percaya kau berharga, aku tak peduli. Yang terpenting adalah apa yang aku rasakan.”
Kelima, bahwa pendidikan adalah tentang memanfaatkan orang lain.
Kenapa tidak layak disebut begitu? Padahal jelas-jelas jika kau mendidik untuk membelajarkan adalah dengan melibatkan mereka yang haus akan ilmu. Itu adalah memanfaatkan. Karena pasti “jika kau beri tahu, dia akan lupa; jika kau tanya, mungkin dia akan ingat; tapi jika kau melibatkannya, pasti dia akan belajar.” Ilmu sesederhana itu jika kau meu mempelajarinya. Sederhananya adalah “kau mau mempelajarinya dengan kewajiban untuk mengamalkannya, atau tidak, dan berarti kau tak berbeda dengan batu.”
Keenam, bahwa cinta tak harus selalu bersama.
Malam terlalu gelap kala itu. Bintang tak terlihat dan justru butiran air yang datang mengunjungiku. Yang terpenting di sini adalah rasa kesendirianku. Tak ada satupun yang menemaniku walau angin malam begitu dingin. Dan itu memang sudah seperti biasanya, yang aku selalu sendiri. Aku pun tak suka jika terlalu ramai, itu terlalu hampa untuk yang tak jelas sepertiku.
Yap. Cintaku malam ini tak disisiku, walau dia tak terlalu jauh dari pandangan mataku. Tapi sakit yang kurasa tak seberapa karena aku sudah pernah merasakan yang lebih hancur dari itu. Cintaku mala mini berlalu dengan dia yang lain. Dengan dia yang aku tak pernah merasa lebih baik darinya. Setdaknya sampai detik ini.
Jadi, Kota Kecil Purwokerto mengajarkanku banyak hal hari ini. Apalagi tentang cinta. Yang dulu tak pernah menyentuhku setidaknya selama 2 tahun. Tapi di sini ada yang mengajarkanku untuk kembali mencinta. Walau dengan arti yang sedikit berbeda dari cinta yang dulu “pernah ada”.


23 Oct ‘17
#anaktanitepus

Monday, April 10, 2017

Analisis Mingguan PSDA

Analisis Mingguan Personalia

Monday, March 13, 2017

Tentang Gelisah, dan Bukan Gundah

Sepertinya 2 tahun masih belum cukup untukku dapat menjadi seseorang yang berbeda, dan melupakan segalanya yang pernah terjadi dalam kehidupanku. Bayang-bayang itu masih sangat kuat menempel dalam benakku. Bahkan, ini adalah saat ke sekian kalinya aku kembali masuk pada kehidupan seseorang setelah orang yang sebelumnya “mungkin” penuh harap kepadaku akan suatu status terhadapnya, telah lelah menantikan kepastian akan hal itu. Dan bahkan, sampai detik ini pun aku masih belum bisa mengerti arti sesungguhnya istilah yang memberikan bekas luka mendalam padaku, yang mereka sebut dengan “pacaran”. Kata yang menurutku sampai detik ini masih belum bisa konkrit memiliki definisi yang dapat masuk ke dalam akal sehat karena dari beberapa orang yang kujumpai menyampaikan berbagai pernyataan yang berbeda.

Aku memang sudah cukup lama mengenal istilah itu lengkap dengan berbagai kisah dari orang di sekelilingku yang pernah juga “merasakan” fantasi atas istilah tak konkrit itu. Tak jarang pula di antara mereka menggunakan istilah lain untuk menyebut perlakuan yang sama pada hal tersebut. Kurang lebih satu tahun yang lalu. Aku memasuki kehidupan seorang gadis yang aku sendiri tak tahu apa tujuanku untuk mengenalnya. Apakah hanya sebatas untuk mencari pelampiasan atas perasaan kesendirianku, mencari calon pengisi ruang hati yang sering diistilahkan sebagai pacar itu, atau bahkan mungkin aku menyebutnya sebagai portofolio masa depan karena mungkin suatu saat nanti Tuhan akan memberikan waktu kepada kami untuk bersama. Aku sampai detik ini masih tak mengerti.

‘Hey.... apa kabar denganmu?’

‘Masih seperti dulu. Tak ada yang berubah dari kesederhanaanku.’ Jawabku kepadanya yang begitu sering memanyakan hal yang sama seperti itu berulang kali.

Lebih konyolnya lagi, pertanyaan yang sama seperti itu sering hinggap di mata atau telingaku dari orang yang memberikan bekas mendalam di hidupku. Waktu bergulir begitu cepat dan tak terasa sampai detik ini sudah sekitar satu tahun perbincangan konyol di antara kami yang tanpa tujuan itu terjadi dan terulang. Bahkan mungkin tanpa sadar mulai muncul rasa nyaman hanya dari perbincangan konyol itu, dan mungkin juga ini akan menjadi kisah yang sama seperti perjalananku dengan gadis yang sebelumnya juga menghilang setelah lelah menantikan kepastian karena trend gaya hidup yang ada pada saat ini. Dan itulah yang menjadi alasanku mengapa tak pernah kujatuhkan perasaan dan harapku kepada hati-hati yang belum lama kukenal. Trauma rasanya adalah kata yang paling pas untuk menyebut ketakutanku atas jatuhnya hati dan harapan ini kepada hati-hati yang berlalu itu.

Pagi kali ini terasa begitu sejuk bagiku. Melihat orang-orang berlarian sepanjang jalan yang kususuri dari tempat biasa kudirikan sholat bersama dengan orang setempat menuju kediaman sederhanaku sambil kunaiki kuda besi tak berasap dengan dua kaki. Entah apakah memang pagi ini disajikan oleh Tuhanku dengan begitu cerahnya, atau karena aku melihat sosok yang begitu nyaman dalam pandangan serta ingatanku hingga indahnya terbawa dari dunia fantasiku. Yah, gadis manis yang mampu benar-benar membuatku merasa sanggup hidup tanpa tidur itu namanya adalah Isna. Gaya yang sederhana walau “sepertinya” berasal dari orang berkecukupan itu, tak salah lagi adalah malaikat penjaga jiwaku yang dikirimkan oleh Allah kepadaku dari surga. Kacamata bulat yang tak pernah bosan kulirik di setiap waktu yang kumiliki itu, seperti tamparan bagiku yang dulu beranggapan bahwa orang berkacamata adalah orang yang culun. Dan sekarang, seperti Tuhan menghadapkanku kepada hal yang tak bisa kutolak lagi kehadirannya dalam duniaku.

Aku pun tak mengerti kenapa waktu bergulir akhir-akhir ini terasa begitu lama. Menatap tawanya saja seolah sudah sangat lama. Padahal, siang di mana aku bertemu dengan Isna baru minggu kemarin. Tidak ada hal istimewa dalam perjumpaan kami kala itu. Dia tersenyum dan tertawa seperti biasanya. Aku pun demikian. Tanpa kutunjukkan betapa hatiku memujanya, aku hanya mengajaknya berbicara untuk sedikit berbagi cerita tentang kehidupan masing-masing. Ini bukan tentang trend yang hanya ingin saling mengenal tapi tidak untuk pacaran, bukan. Dari sorot matanya saja aku sudah sangat paham dia bukan tipe orang yang suka bermain dengan hati, dia adalah orang yang suka berteman dengan siapapun.

Dan hari ini, tiga hari setelah aku melihat pagi yang teramat cerah itu, adalah perjumpaanku dengannya yang kesekian kalinya. Perlahan aku mulai salah tingkah dengan penampilanku. Aku yang memang tak pernah bisa dandan sebagai seorang pria, hari ini merasa begitu canggung untuk menemuinya. Dengan didampingi hangatnya mentari pagi, aku berencana mengajaknya untuk mengunjungi suatu tempat yang menurutku cukup istimewa. Setidaknya tempat yang kuyakin belum pernah dikunjungi Isna sebelumnya.

Adalah rasa tak karuhan yang ada saat kutahu ternyata dia mau menerima ajakanku untuk pergi. Dan hari ini sepertinya Tuhan mendukung acaraku karena mendung sama sekali tak hadir. Adalah secangkir jingga di langit senja yang menjadi pilihanku pada saat pertama kali kuajak Isna menjumpai indahnya alam itu. Ya, dia adalah gadis luar daerah yang tak suka bepergian hingga belum pernah menyaksikan tingginya bukit di mana Ratu Boko berdiri dengan kokohnya. Dan tepat sekali dengan dugaanku. Dia yang seperti gadis pada umumnya itu, sementara aku yang memang sedikit berbeda dari kawan-kawanku, bersama, berdua, kami mengabadikan tidurnya langi merah di ufuk barat bumi dengan lensa kamera DSLR yang kupinjam dari kawanku. Bagaikan model dan fotografernya, isna bergaya di dalam lensa kamera itu baik dengan menghadap maupun membelakangi langit senja. Tak ada yang istimewa, satu pun tak ada. Hanya senyum dan tawanya yang semakin membekas di dalam jurang hatiku yang telah lama ditinggalkan oleh penghuninya. Dan kini, adalah dia yang mampu merasuk jauh ke dalam jurang yang aku pun sampai detik ini masih yakin jika sakit itu akan sangat mungkin untuk kembali terulang.

“Ini masih mau berapa frame lagi pak?” tanya Isna padaku yang terus sibuk dengan kameraku untuk mengabadikan gambarnya bersama langit senja itu.

Nampak sedikit bias langit merah dalam kaca mata bundarnya saat aku menghampirinya untuk meminta sedikit gambar bersama. Dan, itulah teman bagi seorang Isna. Tanpa ragu ia menerima tawaranku untuk foto bersama dan mengabadikan merahnya senja kala itu dengan lensa kamera yang mungkin tak akan kudapati lagi momen seperti itu.

Rasanya, senja begitu dmaai meninggalkan terangnya bumi bersama bidadariku untuk sejenak tertidur di balik belahan bumi lain. Detik akhirnya bergulir dengan begitu cepatnya lagi. Adalah rumah Allah destinasi selanjutnya petualangan kami kali ini. Yah, seperti sebelum-sebelumnya aku yang masih merasa tak pantas untuk menampakkan wajahku kepada Tuhanku hanya mengekor saja ketika Isna mengajakku menemui-Nya. Dan luar biasa. Tak ada pria satu pun kala itu selain diriku yang berada di Masjid megah dekat Ratu Boko. Tanpa ada masalah dan pertmbangan semua orang memintaku untuk menjadi pemimpun sholat Maghrib berjamaah kala itu. Lalu, tibalah seorang pria tua yang nampaknya adalah warga sekitar yang turut mendiringku ke depan pertanda memang aku yang harus menjadi pemimpin sholat kala itu. “Baiklah....” jawabku dalam hati walau detak jantungku tak stabil dan cenderung terus meningkat.

Tak ada hal yang lebih istimewa lagi selain memohon ampun kepada Tuhan yang telah memberiku kehidupan dengan beriring ribuan doa di belakangku. Dan, lirih dalam doa di akhir shalatku kuucap nama Isna kepada Tuhanku berakhiran “jika memang engkau izinkan, maka jadikanlah dia, tapi jika tak kau jadikan, maka alasan bahwa bukan dia orang yang paling tepat untukku menurut-Mu adalah alasan yang tak mampu hamba tolak Wahai Allah, Tuhan yang Maha Mengetahui”. Akhirnya, perjalanan pulang dari petualangan bersama langit senja kala itu dimulai. Bertabur bintang di langit malam yang gelap gulita, kususuri jalan menuju kediaman kami. Dan kemabil, layaknya seorang teman yang memang tak ada apapun di antara kami menjadikan malam begitu damai. Hanya sesekali jantungku berdbar tak karuan kala suaranya menggema di gendang telingaku. Entah mengapa tiba-tiba isna mengajakku berhenti sejenak untuk makan. Dan, baiklah, mungkin ia tengah lapar setelah seharian beraktivitas dengan manusia tak jelas sepertiku.

Tak ada kata sedikitpun darinya yang dapat terkenang, atau setidaknya kuingat ketika kami makan di tempat itu. Malam semakin dingin dan layaknya seorang pujangga kuletakkan jaketku di tubuh isna yang kedinginan. Perjalanan kami lanjutkan tanpa sepatah kata pun dia ntara kami. Sesampai di tempat tujuan kami, yaitu kediaman Isna aku merasa sedikit ahal aneh, benar saja tak ada kata apapun darinya. Meski mesin kuda besi yang kali ini kami naiki telah mati, tubuh Isna masih bersandar di pundakku tanpa sadar.

Lagi-lagi kaca mata bulat berwarna hitamnya itu-lah yang membuatnya semakin manis saat tertidur. “Isna,,,, kita udah sampai.” Lirih suaraku membangunkan Isna dari tidurnya di bahuku. “Oh iya Ki, maaf. Hehe capek banget. Untung aja nggak jatuh.” Sembari mengusap matanya yang baru saja terbuka, Isna turun dari kendaraan dan meninggalkan bahuku yang sebenarnya tak terlalu nyaman untuk digunakan sebagai tempat tidur.

“Yaudah, tidurnya dilanjutin. Hehe, besok masih harus kuliah kan?”

“Besok Minggu ki...”

“Waduh iya, lupa aku. Yaudah selamat tidur ya Isna..”

***


Sunday, August 14, 2016

Hijab Cinta


Hai, aku adalah seorang anak perempuan yang super tomboi. Meski penampilanku terkesan cewek banget, dengan rambutku yang terurai panjang ini selama aku masih SMA tidak ada satupun laki-laki yang berani denganku. Melalui kedekatanku dengan banyak pihak di sekolah mulai dengan karyawan, guru, dan sesama siswa, pada tahun kedua aku SMA mampu membuatku menjadi ketua OSIS. Yah, benar. Semua sainganku kuancam agar aku menjadi calon tunggal ketua OSIS periode tersebut. Alhasil tidak ada yang berani mendaftar sebagai sainganku. Bahkan siswa laki-laki paling besar badan dan ototnya pun nyalinya kalah denganku. Dan masa itulah yang mengawali idup baruku. Selama satu tahun sekolah di SMA itu, aktivitas yang kulakukan setiap hari adalah selalu memalak uang saku siswa di sana. Dan anehnya taka da yang mau melawan. Ada yang bilang jika sikapku yang keras ini karena aku dibesarkan tanpa ada ayah dan ibu. Aku hidup bersama bibiku yang hanya pas-pasan dan bahkan untuk makan setiap hari saja susah. Bibiku mengaku bahwa ia menemukan bayi kecil beberapa tahun yang lalu di pinggir sawahnya, dan akhirnya ia memutuskan untuk merawatnya sehingga bias tumbuh sedewasa ini meskipun menjadi anak perempuan yang cukup begajulan.

Monday, December 21, 2015

Fauzy Genzo

Fauzy Genzo, ya begitulah mereka mengenalku dari media sosial. Memang sengaja seluruh akun media sosial saya beri akun itu karena terlanjur menggunakan nama itu di Facebook yang dulu tidak bisa diganti. Dan akhirnya semua saya pakai nama itu saja. Lalu perlahan teman-teman saya mulai bertanya tentang apa itu "Genzo"? jika diuraikan cukup panjang, jadi saya tuliskan saja di laman tercinta saya ini.

Sunday, December 13, 2015

Maaf, Aku Hanya Bersamamu di Depannya



Tiga bulan sudah, aku masih teringat ketika Tia berpamit padaku karena mungkin akan jauh dariku karena ia telah memiliki kekasih. Dan sejak itu juga kehangatan persahabatan terakhir kurasakan bersamanya yang hingga kini tak pernah ada lagi sahabat sepertinya. Tapi, entah mengapa pagi ini aku mulai berpikir bahwa akhir-akhhir ini ada sedikit kegundahan dalam hariku. Dan selalu terbayang oleh wajah sang sahabat. “Tia, apa kabar denganmu saat ini?”, hanya itu yang terbersit dalam hati dan pikiranku. Aku bahkan tak mau mengganggu orang lain walau hanya sekedar bertanya tentang kabar, karena bagiku komitmen untuk menjauh dari teman yang tengah berbahagia dengan kekasih itu adalah hal yang akan selalu kujaga.

Our Famous Clients

Our Services


Branding
Perfect thumbnails matter

Meganto quality templates can make your website load faster Peut rendre la charge de votre.

Starting at $400 Get in touch
Design
Enhance your website

Meganto quality templates can make your website load faster Peut rendre la charge de votre.

Starting at $60 / hour Get in touch
Installation
We'll manage the rest

Meganto quality templates can make your website load faster Peut rendre la charge de votre.

Starting at $50 / hour Get in touch
Customization
We will customize it

Meganto quality templates can make your website load faster Peut rendre la charge de votre.

Starting at $90 / hour Get in touch

Contact Us


Anaktanitepus
Tepus, Giripanggung
Gunungkidul, Yogyakarta, Indonesia

0857-2927-8396
nurulfauzi0501@gmail.com

Interested for our works and services?
Get more of our update !