Thursday, December 20, 2018

Fintech, Adaptasi Perkembangan IT atau Kemunduran Ekonomi?

 


Sebuah Narasi, Fauzy Genzo

Fintech agaknya menjadi istilah yang semakin meledak di era milenial ini. Kata yang merupakan akronem dari Financial dan Technology tersebut umum digunakan untuk menyebut aplikasi keuangan khususnya aplikasi untuk pengajuan pinjaman. Baik di Indonesia maupun di Luar Negeri perusahaan di bidang ini terus menjamur.

Perusahaan start up berlomba menciptakan berbagai fasilitas dalam genggaman mengingat penggunaan ponsel pintar terus mengalami kenaikan seperti tertulis di laman kominfo.go.id. Iming-iming kemudahan dalam bertransaksi terutama pengajuan pinjaman menjadikan teknologi keuangan ini dapat berkembang dengan pesat. “Lalu, di mana masalahnya?”

Terkait dengan perdagangan data, biarkan pihak lain yang mengulasnya. Bisnis data memang selalu menarik untuk dilirik. Sayangnya, di sini saya mengajak pembaca sedikit memainkan logika pada perekonomian. Narasi ini berisi sejumlah dugaan dan membiarkan pembaca yang mungkin ‘lebih tahu’ untuk berkomentar di bilah yang tersedia.

Sebenarnya, munculnya metode pembayaran dengan uang elektronik (e-money) memang memudahkan kita dalam bertransaksi. Tanpa perlu mengeluarkan dompet dan uang fisik, atau juga mencari receh untuk kembalian, kita dapat nyaman bertransaksi. Jika ini dilakukan dengan metode transfer antar bank (e-banking) jelas ketika satu rekening bertambah, rekening lainnya akan berkurang.

Setuju?

Lalu bagaimana dengan aplikasi keuangan pihak ketiga? Tidak etis rasanya menyebut merek di sini. Istilahkan saja DO-PAY atau DRAB-PAY dan PAY-PAY lainnya. Misalkan, kita transfer dari rekening Bank A ke akun virtual kita di PAY tersebut, umumnya jumlah yang masuk/keluar itu sama. Rekening Bank A saya berkurang Rp10k, dan rekening virtual saya bertambah Rp10k. jika membayar antar rekening virtual, misal saya beli melalui aplikasi dan membayar dengan PAY tersebut Rp10k, pasti mutasi dalam rekening saya dan rekening lawan transaksi akan berkurang dan bertambah sebesar Rp10k.

Clear?

Lalu, bagaimana dengan perlakuan voucher? Saya sering mendapatkan voucher dalam akun virtual pay saya. Kadang, bisa sampai Rp40k. Kalau saya gunakan jasa kirim dan bayar menggunakan voucher tersebut, apakah kurir juga mendapatkan tambahan Rp40k di rekening virtualnya? Padahal, kalau cash bisa dapat Rp40k berbentuk uang fisik.

“Ya mas, kalau vouchernya 10k, dia pakai jasa saya 11k, yang 10k nanti masuk rekening virtual syaa dan bisa dicairkan di bank.” Kata salah satu agen jasa yang juga teman saya itu.

Adil kan? Tidak ada pertanyaan lagi? Jawabannya, BANYAK!

Lalu, uang siapa yang digunakan untuk mengganti voucher tersebut? Perusahaan penedia PAY? Kalau voucher hanya senilai 40k sih gampang. Lah kalau usernya 1juta, masing-masing menggunakan voucher 4k sudah 4juta sehari lho. Kalau sebulan, sudah 120juta. Tenang, tidak se-ekstrim itu. Kita pakai saja yang 4juta uang perusahaan terpakai untuk mengganti voucher. Ya setidaknya perusahaan harus membayar biaya iklan sebesar itu untuk waktu satu hari.

Empat Juta sehari, dan anggap saja sepuluh hari sebulan berarti 120 hari setahun dikali 4 juta.

Saya yakin manajemen perusahaan pasti memiliki metode income generating yang baik sehingga kecil kemungkinan untuk merugi.

No comments:
Write comments

Tertarik dengan layanan kami?
Dapatkan selalu informasi terbaru !