Sunday, December 13, 2015

Maaf, Aku Hanya Bersamamu di Depannya



Tiga bulan sudah, aku masih teringat ketika Tia berpamit padaku karena mungkin akan jauh dariku karena ia telah memiliki kekasih. Dan sejak itu juga kehangatan persahabatan terakhir kurasakan bersamanya yang hingga kini tak pernah ada lagi sahabat sepertinya. Tapi, entah mengapa pagi ini aku mulai berpikir bahwa akhir-akhhir ini ada sedikit kegundahan dalam hariku. Dan selalu terbayang oleh wajah sang sahabat. “Tia, apa kabar denganmu saat ini?”, hanya itu yang terbersit dalam hati dan pikiranku. Aku bahkan tak mau mengganggu orang lain walau hanya sekedar bertanya tentang kabar, karena bagiku komitmen untuk menjauh dari teman yang tengah berbahagia dengan kekasih itu adalah hal yang akan selalu kujaga.

Terjaga sejak pukul 4 pagi membuatku benar-benar erasa kawatir tentang keadaan sang sahabat. Akhirnya, aku memutuskan untuk menenangkan sedikit kecemasanku. Selepas shalat Subuh aku mendaki bukit di belakang rumah kakekku untuk menyaksikan pemandangan matahari yang terbit. Sembari berharap kegundahan itu hilang, aku sendirian dalam keheningan fajar mendaki ke puncak bukit sambil berdoa kepada Tuhanku agar Dia selalu menjaga sahabatku.
Sangat disayangkan, indahnya matahari terbit dari ufuk timur tak berhasil membuatku lega. Kegundahan itu masih terasa hingga saat aku turun. Tepat jam 7 pagi dering telepon yang tak asing lagi berbunyi dari kantong saku celanaku. Dan, tulah dia. Entah ada apa sang sahabat pun akhirnya menghubungiku.
“Asalamualaikum, Tia, ada apa?”
“Waalaikumsalam Ga, lagi di rumah enggak?”
“Aku lagi liburan nih di rumah kakek. Ntar sore lagi mau pulang. Emang gimana?”
“Ntar malem maen yok? Aku tunggu di tempat biasa.”
“Okedeh, sip!”
“Yaudah Ga, Wasalamualaikum.”
“Ya Waalaikumsalam.”
Ya begitulah, akhirnya setelah sekian lama kami tak bertemu ada janji untuk bermain bersama lagi. Mungkin memang hanya tiga bulan sih, tapi cukup lama lah untuk memupuk rasa rindu akan kebersamaan dengan sahabat.
***
Akhirnya sore pun tiba. Bersama awan kelabu yang mengiringi kepulanganku dari rimah kakek aku menyusuri jalan menuju rumah. Hujan rintik pun tak lama kemudian mengguyur seluruh tubuhku. Genangan di jalan-jalan perlahan mulai bermunculan. Syahdu, rasa yang kurasa mengiringi perjumpaan dengan kawan yang sudah cukup lama tak kutemui.
Kini telah tepat jam 8 malam dan aku melihat sesosok gadis manis nan cantik jelita tengah duduk termangu di sebuah kursi taman kota. Kaca mata yang tak asing itu juga nampak menghias wajah manisnya yang tak asing lagi bagiku.
“Hei, ada apa nduk?” sapaku pada Tia yang telah datang lebih awal dariku.
“Aish, kayak biasanya. Kamu telat.”
“Loh emang gitu? Ini jam 8 kan?” tanyaku pada Tia dari belakang kursi taman itu ketika Tia menegok padaku.
“Iya, tapi kalo duluan aku ya kamu tetep telat namanya.”
“Yah,,,, kamu masih gitu ya?? gak dapet apa-apa dong selama tiga bulan kamu kabur sama cowokmu? Gak ada perubahan gitu.” Ejekku pada Tia sambil duduk di sampingnya.
“Tiga bulan, enam bulan, stahun, atau berapa lama pun aku gak akan bisa berubah. Aku akan tetap seperti Tia yang dulu.”
“Heh? Maksudnya?”
“Aku udah selesai sama dia.” Sambil menunduk Tia mengatakan bahwa ia dan kekasihnya sudah selesai.
“Loh, kenapa? Bukannya dia yang dari dulu kamu idamkan?” tanyaku dengan penuh keheranan karena Tia telah mengaguminnya sejak lama. Seorang laki-laki yang berparas istimewa dan begitu sempurna(kayaknya sih gitu).
“Maknnya dengerin dulu.! Ntar kamu pasti ketawa. Ini emang lucu, dan bikin aku ngerasa bodoh banget Ga!”
“Yaidah, aku dengerin deh. Tapi ceritanya jangan bosenin ya? kalo bosenin ntar kamu traktir mie ayam!”
“Dulu, masih inget kan waktu aku pamit itu?”
“Iya.”
“Nah, saat itu aku mulai benar-benar ngerasain kalau dia sawyang sama aku. Akumulai ngelakuin berbagai penyesuaian antara aku sama dia. Bagiku, banyak persamaan antara kami itu akan membuat semuanya lebih nyaman. Makannya, aku pamit sama kamu dan nyoba buat fokus sama itu.”
“Tapi, sebulan semenjak itu semuanya mulai berubah. Aku mulai ngerasain ada yang beda dari dia. Ya memang, ada seseorang yang ngaku kalo suka sama dia. Tapi aku posthink aja kalo dia gak bakal peduli sama itu cewek dan cintanya Cuma buat aku.” Lanjut Tia.
“Nah terus? Ada orang ke tiga gitu?”
“Enggak, bukan. Tapi ada orang ke dua di antara orang pertama dan ke tiga.”
“Loh? Maksudnya gimana? Kok aku lola sih?”
“Mereka udah saling suka sebelum aku jadian sama dia. Tapi mereka saling diam dan gak ada yang ngomong. Baru setelah sebulan aku jadian, si cewek itu ngomong kalau dia suka sama cowokku.”
“Idih, ngeri amat sih.”
“Ya gitulah. Sering, kalau aku hubungin Dika, dia bilangnya lagi sama cewek itu. Dan itu sering banget. Dan itu bikin aku sangat gan nyaman Ga.”
“Ya wajar sih...”
“Woey! Wajar gimana? Orang temennya lagi sedih malah bilang gitu.”
“Hehehe, maksudku wajar aja kalo kamu jealous sma itu cewek.”
“Iya, dan yang terakhir pas aku pergi sama teman-temanku Dika malah pergi sama cewek itu buat jengukin Ibunya cewek itu.”
“Em,,,, aku jadi bingung.”
“Bingung kenapa?”
“Ceweknya Dika itu kamu atau dia sih? Hahaha”
“Hih, kamu. Temennya sedih malah diledekin!” Sambil menampar wajahku dengan gayanya yang agak centil.
“Hehehe, yaudah yaudah yaudah,,,, ampun bu Tia,. Maafkan Rega yang nakal ini ya.?! mau kan???”
“Gak mau.”
“Yahhhhh kok gitu sih??? Yaudah aku pulang deh nek gakmau maafin.”
“Punya temen kayak kamu itu ngeselin banget ya! temnnya lagi sedih diledekin, ini lagi marah malah mau ditinggal balik! Huh.”
“Hehehe, lanjutin dong ceritanya....”
“Yaudah, aku lanjutin.”
***
Dan begitulah kisah Dika dengan Tia yang memang sulit untuk kita definisikan maksud mereka apa. Terserah kalian mau menganggap bagaimana sikap si Dika. Seorang laki-laki yang bersama dengan Tia sang sahabatku ketika di depan orang banyak, bahkan di depan cewek yang ia suka. Tapi begitu jauh dari Tia, Dika justru dekat dengan cewek lain. Bahkan semua hal dalam hidupnya dibagi dengan cewek itu dan tak ada seberapapun yang dibagi bersama dengan Tia. Sementara, selalu kata “sahabat” dan “tidak mungkin jatuh cinta” yang diucap oleh Dika saat Tia bertanya tentang cewek itu. Tapi, dari cerita Tia aku bisa tahu bahwa memang Dika menyayangi cewek itu walau itu juga baru dugaan Tia. Aku percaya sahabatku memiliki feeling yang kuat soal cinta dan hubungan orang lain.
Kini Dika dan Tia memang sudah berpisah, meski begitu Dika dan cewek itu juga belum mau berpacaran. Tapi aku sangat yakin cinta di antara mereka teramat kuat. Bahkan jauh lebih kuat dari aku dan Intan yang pernah rasakan dahulu. Walau ia pernah menangis hanya karena aku, tapi itu bukan apa-apa jika dibandingkan dengan Dika dan cewek yang ini. Cinta suci di antara mereka yang terpendam itulah yang membuat nampak begitu kuat. Cinta bukan hanya tak harus saling memiliki, tapi cinta suci juga tak harus saling diungkapkan. Yang ada, cinta itu adalah melalui sebuah perbuatan sikap, bukan tentang  kata-kata yang muncul dari mulut manis yang bisa dengan mudahnya berbohong.
“Jadi gitu ya.... sahabatku yang cantik ini sekarang lagi galau. Yang dulu ngejekin aku pas putus sama Intan gara-gara dia juga suka sama orang lain tapi ditutupin, sekarang malah nangis did epanku gara-gara laki-laki ngebosenin itu? Yaudahlah, nagnis dulu aja ya.... ntar kalo udah puas juga bakal hilang lukanya.”
“Makasih ya Ga, aku gak tau lagi mau cerita sama siapa.”
“Heleh, kamu cerita sama Tuhan juga masih bisa. Jangan lupain Dia deh. Itu sakit hati datengnya dari Tuhan lewat Dika, dan kamu cari obatnya juga harus ke Tuhan. Aku cuma bisa dengerin aja apa kelu kesahmu. Sisanya ya itu urusan kamu sama Tuhan.:”
“Yaudah, makasih udah dengerin. Malam ini nampaknya langitnya dukung banget.”
“Iya tuh, bintangnya banyak banget. Padahal musim hujan. Harusnya kamu lebih semangat buat lupain pengejaranmu yang gak berarti itu dan cari jalan yang baru.”
“Udah malam nih, pulang yook?” ajakku pada Tia yang masih nampak sedikit melamun.
“Ayok, tapi anterin ya?? hehehe”
“Yadeh, daripada ntar nyasar ke hati orang yang salah lagi tak anterin pulang.”
“Wuuu.... dasar diary berjalan!!”

No comments:
Write comments

Interested for our works and services?
Get more of our update !