Sunday, August 14, 2016

Hijab Cinta


Hai, aku adalah seorang anak perempuan yang super tomboi. Meski penampilanku terkesan cewek banget, dengan rambutku yang terurai panjang ini selama aku masih SMA tidak ada satupun laki-laki yang berani denganku. Melalui kedekatanku dengan banyak pihak di sekolah mulai dengan karyawan, guru, dan sesama siswa, pada tahun kedua aku SMA mampu membuatku menjadi ketua OSIS. Yah, benar. Semua sainganku kuancam agar aku menjadi calon tunggal ketua OSIS periode tersebut. Alhasil tidak ada yang berani mendaftar sebagai sainganku. Bahkan siswa laki-laki paling besar badan dan ototnya pun nyalinya kalah denganku. Dan masa itulah yang mengawali idup baruku. Selama satu tahun sekolah di SMA itu, aktivitas yang kulakukan setiap hari adalah selalu memalak uang saku siswa di sana. Dan anehnya taka da yang mau melawan. Ada yang bilang jika sikapku yang keras ini karena aku dibesarkan tanpa ada ayah dan ibu. Aku hidup bersama bibiku yang hanya pas-pasan dan bahkan untuk makan setiap hari saja susah. Bibiku mengaku bahwa ia menemukan bayi kecil beberapa tahun yang lalu di pinggir sawahnya, dan akhirnya ia memutuskan untuk merawatnya sehingga bias tumbuh sedewasa ini meskipun menjadi anak perempuan yang cukup begajulan.


Anehnya, meski selama satu tahun aku selalu menjadi preman di sekolah, guru-guruku taka da yang pernah memanggil bibiku. Bahkan terkesan taka da yang salah denganku. Mungkin ini disebabkan perbuatanku, tomboiku, dan keberanianku yang membuat dua kelompok siswa yang biasa tawuran di sekolah tersebut menjadi tak pernah tawuran lagi. Di sekolah tersebut hanya ada satu orang yang berani memukul ketua dua geng terbesar di sekolah yang sering bikin onar. Dan itu adalah aku. Itulah kenapa mereka tak pernah membuat onar lagi, karena setiap aku lewat mereka seperti kucing yang didekati anjing. Jika kalian penasaran siapa namaku, orang-orang biasa memanggilku Intan. Nama yang cantik memang, tapi kalian tak akan terbayang betapa anehnya tingkah laku gerombolan siswa saat mendengar namaku di sekolah tersebut.

“Intan jalan dari gerbang….”

Hanya dengan satu kalimat singkat tersebut, seluruh gerombolan siswa yang tengah asyik bersendagurau seketika menjadi tenang, sunyi dan sepi. Seolah mereka mendengar kabar akan terjadi badai di suatu daerah.

Satu tahun periode OSIS akhirnya telah berakhir. Kemenangan yang kudapat dengan tak terlalu sportif itu ternyata justru memberikan hasil yang cukup memuaskan. Belum ada masa yang bias sesukses kepemimpinanku. Berbagai prestasi yang pernah diraih di tahun-tahun sebelumnya, dapat kami pertahankan dan bahkan kami tingkatkan. Dengan kekasarnku aku mampu membuat dua orang ketua geng pembuat onar tersebut mencapai final kejuaraan karate tingkat nasional. Tentu hal ini menjadikan sekolah kami sebagai juara 1 & 2. Selain itu, paskibra sekolah yang tak pernah sekalipun maju dalam suatu lomba, akhirnya mendapat juara 1 di tingkat provinsi dan masih banyak lagi. Akan tetapi, jabatanku tersebut harus berakhir. Aku dan siswa seangkatanku sudah masuk ke kelas 12. Dengan demikian ketua OSIS juga harus digantikan dengan ketua OSIS yang baru.

Kebadunganku tak berhenti seketika di masa tersebut. Saat kelas 12 aku masih tetap menjadi momok menakutkan di sekolah. Bagaimana tidak, juara karate tingkat nasional pun dapat kujatuhkan hanya dengan satu pukulan di pusarnya. Bahkan setelah peristiwa tersebut, sehari setelah menjadi juara karate dan kupukul, sebut saja Doni, harus opname selama satu minggu di rumah sakit hanya karena pukulanku. Mungkin dengan cerita ini kalia akan berpikir bahwa aku memiliki badan yang kekar dan lengan berotot. Bias dikatakan seperti itu. Kerasnya hidupku bersama bibi memaksaku untuk selalu membantunya di sawah setiap harinya. Dan itulah yang membuatku memiliki tubuh sekuat itu.

Bulan Agustus tiba, satu bulan setelah tahun ajaran baru di kelas 12 ada satu orang siswa laki-laki masuk. Dia adalah Reza, sebut saja begitu. Sontak seluruh siswa perempuan memujanya karena dia adalah siswa yang kaya, keren, ganteng, dan juara olimpiade matematika tingkat nasional. Dengan wajahnya yang sok polos tersebut, dia memeprkenalkan diri layaknya anak baru pada umumnya, di depan kelas. Dan satu kelas pun penuh dengan teriakan suara siswa perempuan.

***

“Aku Reza, kamu siapa?” tanyanya padaku di waktu istirahat.

“Intan….”

“Nama yang cantik. Sama kayak orangnya.” Sahutnya.

“BBbbbbbbbboouuughhhtttt!!!!!!”

Suara yang tiba-tiba mengagetkan orang-orang disekeliling kami yang baru saja berjabat tangan. Ya, itu adalah suara hantaman dari genggaman tanganku. Tepat mengarah ke pelipisnya yang berkulit putih cerah tanpa ada jerawat satupun. Bahkan, lalat pun tak akan kuasa mengganggu mata yang dimiliki Reza karena saking indahnya.

“Loh? Kenapa?” tanyanya padaku.

“Sialan……” dalam hati aku mengatakannya saat ia memegang tanganku yang mengarah tepat ke pelipisnya. Ini baru pertama kalinya ada seseorang yang mampu menepis pukulanku di sekolahan ini.

“Kamu emang beneran cantik kok…..” katanya padaku yang kala itu masih memandangi wajahnya dengan posisi tanganku yang juga masih dalam genggamannya.

“Lepasin gak!”

“Iya deh, galak amat sih neng..”

Itu adalah pertama kali ada orang yang bilang aku cantik. Dan dia adalah siswa laki-laki yang baru saja masuk ke sekolahanku, berhasil menahan pukulanku, serta idola semua siswa perempuan di sana. Setelah kejadian itu memang banyak orang yang membicarakannya, bahkan di segerombolan siswa laki-laki pun sering membicarakan kejadian itu. Sempat pula aku mendengar ada yang heran denganku, katanya aku memiliki kulit yang putih mulus, padahal sering membantu bibi di sawah. Selain itu beberapa kali terdengar mereka memuji rambutku yang lurus terurai panjang, serta wajahku yang sama sekali tak berminyak ataupun pernah berjerawat. Hanya saja keadaan yang sama, yaitu selalu menjadi hening saat aku lewat belum pernah bias hilang.

Tiga hari setelah kejadian itu entah kenapa siswa laki-laki bernama Reza itu jadi sering memanggil-manggil namaku, dengan gaya sok akrab serta sering mengajakku pergi bermain. Bahkan tak jarang mengantarku pulang sampai membantu bibiku pula di lading.

Satu bulan berlalu. Kurasa tebakan kalian sudah pasti benar. Dengan intro berkenalan seperti itu apa yang akan terjadi selanjutnya kalian sudah dapat menebaknya. Ya, pacaran adalah trend masa itu. Dan demikianlah kami. Desas-desus pujian kami adalah pasangan paling cocok di sekolah pun tak dapat dihindarkan. Entah, padahal aku merasa biasa saja. Dan Reza yang memang sejak masuk di sekolah tersebut tak memiliki geng, sama halnya denganku, menjadi salah satu orang yang dihormati oleh siswa lain. Perbedaannya denganku hanyalah dia memiliki sikap yang bijaksana, sehingga orang lain menghormatinya. Sementara aku, mereka takut kepadaku karena kekerasanku.

Oke….. detik demi detik, hari berganti hari, minggu berganti minggu, dan bulan berganti bulan. Tibalah di sini pertengahan tahun ajaran kelas 12. Entah, mungkin karena ada gejolak yang tak pernah muncul di hatiku dan kini aku perlahan berubah. Yang dulu terkesan keras dan kasar, perlahan orang-orang mulai mau menjadi temanku. Semakin dekat dan terus mendekat. Hingga akhirnya banyak orang yang saat itu menjadi temanku kemudian kami belajar bersama tentang perubahan di masa remaja. Reza yang juga seorang yang cukup paham soal agama mulai mengajarkanku tentang agama. Tentang cara berhubungan dengan manusia serta dengan sang penciptanya. Adalah Islam, agama yang tertulis di seluruh kartu identitasku yang tak pernah kucoba pahami apa artinya. Teman-temanku pun demikian, mereka yang sudah sejak lama mengenakan jilbab mendekatiku dengan alasan berdakwah. Dan berdakwah adalah perintah agama, katanya. Memang benar, lingkungan adalah segalanya. Aku yang semula tak pernah paham tentang agama perlahan kini kutunaikan kewajibanku, berawal dari belajar sholat sampai akhirnya satu bulan berjalan di semester terakhir masa SMA ku, aku mampu sholat dengan baik. Memasuki bulan kedua, aku mencoba seperti teman-temanku.

“Ih kamu tambah manis kalau pakai kerudung.” Puji Reza yang kala itu adalah kekasishku.

Ya, setelah aku belajar sholat aku mulai menutup rambut panjang yang tak jarang kudengar siswa perempuan di sekolahku iri terhadapnya. Kulit di lengan serta kakiku yang mulus pun kini tak dapat dilihat oleh siapapun lagi. Hanya tertinggal wajah yang menurutku tak lebih cantik dari mereka yang sering memujiku, serta tangan kasarku yang mampu membuat semua orang takut kepadaku lah yang kini masih dapat terlihat dengan jelas.

Bumi terus berputar. Dan ujian nasional tinggal menghitung hari. Entah kenapa ada yang mengganggu pikiranku. Mungkin karena aku dan Reza lama tak jumpa kala itu. Maka sejak saat itu kami menjadi sangat akrab. Tak kurang seminggu sekali kami selalu pergi bersama. Ke tempat wisata, taman, dan bahkan belajar bersama. Hingga akhirnya nilai kelulusan UN telah diumumkan dan kami adalah juara tertinggi de sekolah tersebut. Dengan rata-rata yang sama senilai 9,25 membuat kami menjadi peraih nilai tertinggi satu provinsi. Selanjutnya kami pun mendapat kesempatan menaikkan jenjang pendidikan lagi. Dan masih sama, setiap hal kami lakukan bersamaan sampai diterima di tempat pilihan kami masing-masing.

Waktu seolah berputar begitu cepat kami lalui. Satu tahun di universitas kami tak pernah punya masalah satu sama lain. Hingga akhirnya petunjuk Tuhan yang sebenar-benarnya muncul padaku. Adalah niat untuk berhijrah yang menghampiriku. Perlahan kegelisahan dengan adanya statusku dengan Reza membuatku tak nyaman kepada Tuhanku. Dan kuungkapkan apa yang telah kurasa pada Reza. Seketika ia menjadi dingin dan bersikap acuh padaku, tapi aku tak pernah putus asa. Aku ingin menjaga hubungan kami tetap baik walau Reza masih terus mengacuhkanku. Mimpi untuk penjagaanku pun berakhir saat Reza memutuskan untuk berhenti sementara dari studinya. Ia pergi mencari suasana jauh dariku dan rasa tidak terimanya dengan perlakuanku membuatnya putus asa. Malam dan bintang yang menajdi saksi kebersamaan kami setelah senja pergi seolah menangis mengiringi kepergian Reza ke kampong halamannya. Hujan lebat disertai petir saat Reza meninggalkan kota kecil sederhana tempat kami menuntut ilmu bersama, menandakan betapa langit teramat mengerti kehancuran yang dirasakan Reza. Bahkan kunang-kunang yang telah lama tak kulihat di depan rumahku bermunculan sesaat setelah badai besar itu reda. Mungkin Tuhan menghiburku yang tengah kehilangan separuh sayapku.

Tak ada satupun yang dapat mengerti tentang lukaku memang. Seolah semuanya baik saja. Jika kalian berpikir demikian, mungkin karena ceritaku tak sepanjang kisah hidup kalian. Berawal dari perempuan yang menakutkan di sekolah, Reza-lah yang merubahku menjadi seorang perempuan feminim yang mungkin membuat kalian iri. Kemudian, pada akhirnya kulepaskan dia yang selama ini selalu menjadi punggung tempatku bersandar.

Malam itu juga mataku tak kuat menahan pedihnya angin yang berhembus, dan berlinanglah butiran-butiran Kristal kenangan di antara kami. Dan akhirnya waktu bergulir dengan begitu cepatnya. Aku dan Reza lama tak berjumpa dan tak pernah ada kata putus di antara hubungan kami namun Reza menganggap permintaanku tersebut sebagai kata putus. Lama tak berjumpa dan kembali kujumpai Reza di sebuah tempat yang siapapun tak pernah menyangkanya. Adalah meja hijau yang menjadi saksi bisu kejadian tak terduga ini. Memang, seperti mata-mata salah satu teman semasaku SMA yang mengabariku bahwa Reza terjerat suatu kasus gila tak masuk akal. Dan seketika aku mendengar berita tersebut kumohon pada hakim yang tanpa disengaja akhirnya kutemui adalah ayahku. Memohon agar memberikan putusan penangguhan penahanan pada Reza. Tiga kali palu diketuk, seketika pula aku menghampirinya dan…….

”PLAKKK…..!!!”

Mungkin aku terlalu berlebihan menamparnya, namun aku tak menyangka orang seperti dia bias berbuat sekeji itu. Setelah aku melontarkan semua kata-kata sakit hatiku padanya akupun berlalu, dan dia menarik lenganku yang kala itu mengenakan baju lengan panjang lengkap dengan sarung tangan.

“Lepaskan…… aku nggak mau lihat muka kamu lagi yang seperti ini.!”

Terpukul? Ya. Seorang yang mengajakku ke jalan tercerah di dunia ini justru berbalik arah hanya karena cinta semu di antara sesame manusia.

“Kamu sadar gak Za? Aku saying sama kamu lebih dari siapapun di dunia ini. Bahkan apapun akan kulakukan hanya untuk kamu. Tapi kamu justru pergi saat itu, dan sekarang muncul di depanku dengan hal yang sangat mengecewakan. Ingat! Sakit hatiku ini, ingatlah Za!!!”

Dan detik itu pula kami berpisah. Rindu yang dulu kurasa tak mampu terobati dengan semua rasa kecewa yang telah dibuatnya. Dan kami pun kembali berpisah sekian lama. Jalan dengan kehidupan masing-masing dan aku pun tak peduli lagi dengan semua tentang Reza walau hatiku tetap merindukannya dan setiap malam selalu terpikir akan semua kisah kami bersama.

***

Berakhir. Semua kisah tak jelas itu akhirnya kini berakhir. Saat aku memasuki usia 25 tahun, tepat di hari ulang tahunku semuanya berakhir. Secara tiba-tiba yang kala itu Reza telah memegang gelar seorang haji, yang telah lulus pula dalam menempuh pendidikan di negeri luar, meminangku sebagai istrinya. Tanpa terduga, hidup memang tak bias kita perkirakan. Insan yang telah lama terpisah ini dapat kembali bersatu masih dengan hati yang hangat serta di jalan terlapang di dunia ini. Akad yang 3 hari setelah kedatangan Reza ke rumahku pun akhirnya terlafadzkan. Dan ini adalah akhir dari semua kisah di antara kami.

No comments:
Write comments

Interested for our works and services?
Get more of our update !