Saturday, September 12, 2015

Untukmu Wahai Manusia Sukses Move On




Jantung kini kembali berdetak lagi. Setelah sekian lama mungkin ia lupa akan detakannya, kini kembali berdetak dengan kencangnya. Bahkan dinginnya malam tak mampu meredamnya. Hasilnya, aku terjaga diujung malam yang memelukku tanpa ada sedikitpun senyuman dari siapapun. Entah kenapa, aku tiada mengerti, sebuah kerinduan kini datang kembali. Rindu yang sudah bukan pada tempatnya lagi dan bukan pada orang yang tepat. Mungkin sisa rasa yang dulu kumiliki masih membekas, sisa rasa yang kuyakin perlahan akan tiada.
Takdir kini membawaku pada kesendirian. Dan bintang kembali kutatap saat aku terjaga. Terduduk, termenung, dan kembali menatap sang cahaya malam. Di depan pintu kamarku kini aku terjaga. Sendirian, hanya dibelai oleh
angin malam.
Dan entah kenapa, kini aku teringat sebuah nama. Dia lah yang biasa menemaniku di saat seperti ini ketika aku kembali tak tau akan arah harus melaju. Dia lah yang mengingatkanku tentang cita-cita kecilku yang selama ini masih menjadi niatan saja. Tia, seorang teman yang tentu kalian sudah berulang kali melihatnya dalam perjalanan hidupku. Sebuah waktu kembali menjadi sksi ketika kami memiliki diskusi kecil saat aku pernah termenung di tengah malam dalam kesepian.
“Hey, sejak kapan motivator temannya mulai mengalami kegalauan tiada berbatas?” tanyanya kepadaku yang kala itu memang tengah berada dalam keadaan tidak karuan.
“Mungkin, sejak danau bisa memantulkan cahaya bulan (saat danau mulai sepi ditinggal hangatnya sinar mentari bersama keramaian orang dan berganti dengan kesunyian).”
“Sejak saat di mana warna hijau berubah menjadi kelabu dan gelap pada permukaannya.” Lanjutku.
“Mungkin, sedang ada masalah dalam otakmu. Itu saja kalau menurutku. Bagiku, kamu adalah cahaya di balik senyuman mereka, Ga. Mereka bisa tertawa seolah tanpa masalah saat kamu ada di sekitarnya.” Lirih usik Tia di telingaku yang seolah mulai menuli akan nasehat saat aku kembali termenung.
“Ah, diamlah! Kini aku sedang dalam keraguan akan jalan hidupku. Bahkan mungkin sampai kapanpun kau takkan bisa mengertinya. Terombang ambing di tengah kehidupan dunia yang tiada kepastian akan sebuah hal yang aku impikan. Perlahan justru aku harus menerima kepahitan dalam hidupku yang tidak seharusnya pernah terjadi.”
“Yaaaa.... baiklah, aku tidak akan mengganggumu. Mungkin ini yang bisa menghiburmu di malam yang tak jelas ini.” Sembari menyodorkan susu hangat yang dibawanya dari dapur lengkap dengan singkong goreng dengan aroma dan rasa yang khas.
Dan, memang benar. Aku ketika mengalami masalah sejak kecil selalu dapat terselesaikan dengan pikiran yang dingin saat aku bertemu dengan singkong. Dulu, saat kecil nenekkulah yang sering membawakannya. Mungkin kelak kalian perlu mencoba singkong hangat di tengah dinginnya malam untuk menghilangkan stres.
Jika kalian berpikir kegalauan ini tentang cinta, kukatakan kalian memang benar. Ada kisah di masa yang lalu tidak bisa kulupa begitu saja. Entah, mungkin terlalu banyak kenangan dalam perjalanannya atau aku yang lupa berpasrah kepada sang pencipta kehidupan dunia.
Saat itu juga Tia berkata kepadaku, “Untuk apa kau merenungi dan menyesalinya? Bukankah itu sudah terlewat dan tiada bisa kau ubah lagi? Biarlah Ga. Lepaskan ia bercengkrama dengan tenang bersama pilihannya. Mungkin Tuhan telah menyediakan seorang yang jauh lebih baik untukmu. Bukan lagi seorang yang menutupi hal penting seperti dirinya.”
“Kau jelas lebih tau dirinya daripada aku, tapi yakinlah bahwa Tuhan lebih tahu lagi tentang dia dan kelak akan membuatmu seperti apa jika bersama dengannya di waktu mendatang.” Lanjut sahabatku yang sedikit bawel tapi memang terasa benar juga dia kata.
“Sekarang terserah kau saja mau bagaimana. Toh kelak kau juga yang akan berkata bahwa semua itu benar. Tuhan tidak akan menghukummu Ga. Dia hanya ingin kau jadi lebih dari yang dahulu. Jadi seorang yang bisa selalu menebar tawa seperti dulu. Ingat kan ketika dulu kita selalu pergi bersama? Ayo lakukan itu lagi. Kita bersama bisa menebar tawa.”
Ini bukan tentang bagaimana kita melupakan seseorang. Sebenarnya itu yang ingin kukatakan. Ini adalah tentang berjuang dalam menjalani hidup kita yang terkadang berat kita rasakan apa lagi saat kita berpikir sudah tidak berarti lagi hidup kita saat orang yang kita sayangi menjauh dari kita. Padahal, dengan itu kita justru bisa lebih berkarya. Dengan adanya orang yang menjauh itu, kreasi dalam hidup kita tentu bisa lebih baik. Jauh lebih baik karena ketika kita mau melangkah atau bahkan berlari beban yang kita pikul untuk rindu posisi nyaman telah berkurang.
“Dan jangan pernah sekalipun kamu lupa kawan, dunia ini begitu luas. Ilmu yang ada di dalamnya juga tidak pernah akan habis untuk kau kuasai. Sekarang, tertawalah. Ingatlah masa bodohmu saat kamu berhasil dibohongi oleh cinta yang kini meninggalkanmu. Ingatlah betapa bodoh dan gilanya dirimu saat itu. Dan percayalah, kelak orang yang membohongimu dalam hal cinta itu sedikit atau banyak pasti akan menyesal pernah menipumu.” Justru kalimat inilah yang dikatakan Tia kepadaku. Seolah-olah dia ingin mendoakan orang yang pernah membodohiku merasa sedikit menyesal.
Cobalah kawan. Mari bersama-sama kita lakukan tawa terhadap masa lalu yang gila itu. Kini sudah saatnya kita berpikir bagaimana langkah ke depan kita. Mungkin orang dari masa lalu itu sudah tidak pernah berpikir lagi tentang kita. Sudah, jangan memaksa hati untuk merasa jika dia masih memikirkan kita. Dia sudah sibuk memikirkan hidupnya sendiri.
Cobalah seperti wonderman! Atau wonderwoman jika kamu cewek. Sekarang waktunya kita menjadi kuat sepertinya dan nampak seksi (terlihat mempesona di mata orang lain). Itulah yang kini hadir dalam ingatanku gaes. Aku sudah pernah menjadi seorang pecundang dengan cinta semu yang penuh dengan hal tersembunyi. “Sekarang waktunya kau tunjukkan cinta kepada Tuhanmu. Bukankah kamu diciptakan di muka bumi ini sebagai khalifah yang harus memelihara bumi ini? Kamu tidak diciptakan untuk semata-mata berfoya-foya penuh kegilaan. Tapi coba jagalah bumi ini untuk anak cucumu kelak.” Begitulah kira-kira ucapan Tia yang membakar rasa terombang ambingku.
Dan sampai saat ini kalimat itu akan selalu kusimpan rapi. Pesan dari seorang sahabat yang mungkin kini tengah sibuk memikirkan kehidupannya. Setidaknya ada banyak hal yang bisa kupelajari dan kukenang atas semua kalimat-kalimatnya. Bahkan, mimpinya pun masih mencoba kuwujudkan. Mimpi itu adalah bisa melihatku di puncak kejayaan.

No comments:
Write comments

Interested for our works and services?
Get more of our update !