Monday, July 27, 2015

Mencoba Tahu Arti Saudara

Tidak semua orang tahu tentang diriku. Dan setiap bagiannya. Banyak di antara orang yang kukenal berpikir jika aku memiliki saudara entah adik atau pun kakak. Mungkin karena terkadang aku memiliki sifat yang sok bijak atau juga terkadang kekanak-kanakkan. Mungkin juga karena aku sering berkumpul dengan mereka, orang-orang yang memiliki saudara kandung.
Dan sekarang, aktor yang sesungguhnya adalah aku. Tiada yang lain. Kali ini hanya aku yang akan menjadi pemeran utama cerita ini.
***

Sebuah senja terdiam di kala matahari kian menjauh dan meninggalkan panasnya. Hembusan angin yang masih begitu menyejukkan jiwa dapat dengan mudah dirasakan oleh setiap jengkal kulit di tubuh ini. Ketika itu pula menghampiriku lah seorang dewi yang mungkin tengah lupa akan caranya kembali ke langit.
“Permisi,....” dengan senyum yang begitu sulit untuk kulupa, seorang gadis menawan menyapaku yang tengah melamun di senja hari.
“Ya...” justru semakin dalam lamunanku setelah nampak senyum indah sang dewi.
“Maaf, kamu temannya orang ini?” sambil menunjukkan sebuah foto yang cukup membuatku iri karena dia bisa dilirik oleh manusia secantik sang dewi.
“Iya, kenapa?”
“Boleh minta nomor handphone-nya? Kalian satu kelas kan?”
“Yap, tepat.”
“Oke, catat punyaku ya? nanti dikirim lewat sms aja.”
Kisah ini memang dimulai ketika beberapa waktu ketika aku masih di bangku sekolah menengah. Ketika seorang gadis menghampiriku untuk sedikit tujuan yang mungkin cukup tak berarti.
Sambil berlalu sang dewi meninggalkan senja bersamaku di sudut kecil jalan yang mulai lengang ketika malam menjelang. Aku yang kala itu masih melamun akan masa lalu yang entah kini ada di mana, tentang sebuah janji dariku padanya yang kucoba untuk menepatinya. Yaitu, untuk tetap menjaga cinta yang pernah kuungkapkan kepadanya. Ah, sudahlah. Tak perlu lebih panjang lagi. Ini bukan tentang itu.
***
Tak lama dari senja itu, aku kembali bertemu dengan sang dewi bernama-kan Tia. Ya, ini memang awal dari kisah persahabatan kami. Dia yang memang secara usia lebih muda dariku, terkadang memiliki sikap yang sedikit kekanakkan.
Memang itu merupakan pertemuan pertama kami, tapi berawal dari nomor handphone temanku yang kukirimkan padanya aku menjadi semakin dekat dengan gadis berkacamata itu. Tak jarang waktu setelah pulang sekolah kami habiskan bersama entah ke manapun. Dan senyumnya yang akan sulit bagi siapapun melupakannya selalu menghiasi hari kami.
Kini sudah cukup waktu antara kami untuk saling mengenal, mungkin setiap yang melihat kami berpikir kami adalah pasangan kekasih. Tapi tidak. Dari awal aku telah mengunci hatiku. Bahwa aku tidak boleh dan tidak mungkin mencintai orang seperti dia. Dia hanya akan menjadi sahabatku. Dan benar, sampai detik aku dan dia nyaris setahun berkenalan tidak ada cinta antara kami. Bahkan dia juga tak pernah membahas tentang cinta. Semua murni persahabatan yang tentu siapapun akan iri melihatnya.
“Hey, kamu ngelamun terus?! Ada apa Ga?”
“Aku Cuma kebayang cerita lalu kok. Yang, gak penting tapi lucu kalau keinget. Heheh”
“Apaan tuh? Boleh dong aku tau?” tanya Tia dengan senyum manis di wajahnya yang berhiaskan kacamata.
“Waktu aku kecil, aku punya seorang sepupu yang dia amat dekat denganku.”
“Kami sering sekali menghabiskan waktu bermain bersama. Dia sedikit lebih tua dariku.” Lanjutku.
“Bagus donk? Kayaknya bakalan seru nih. Atau justru bikin ngantuk ya? hehehe”
“Kamu gak tau akhirnya gimana. Yang jelas kami tumbuh sama-sama. Dan...”
“Dan kamu jatuh cinta sama dia?”
“Eh, kok tau?”
“Ya aku kan keturunan peramal Ga. Gak kayak kamu. Gak sepinter bapakmu.! hehehe”
“Hahaha, awas saja ya. kalau besok aku bisa seperti bapak, kamu orang pertama yang bakal aku kasih pamer.”
“Hehe, emang gimana terusannya?”
“Ya.... kamu benar. Aku cinta sama dia. Bahkan setiap ada yang mendekatinya selalu aku pantau. Walaupun aku gak bisa ngapa-ngapain tapi aku tetap seneng bisa deket sama dia terus. Sampai akhirnya yang jadi cowokknya adalah temen dekatku. Dan wasalam. Hancur ya rasanya. Hehehe”
“Oh gitu.”
“Hih, cerita sama orang kayak kamu itu kadang nyebelin juga ya?”
“Hehehe, terus? Udah segitu aja?”
“Enggaklah. Ini baru di awal. Lanjutannya adalah, dia nyuruh aku buat deketin cewek sekelas yang selalu jadi kejaran kakak kelas.”
“Wow, berarti kamu termasuk ganteng ya dulu? Sampai saudaramu rekomendasiin buat kamu ngejar itu cewek?”
“Loh, bukannya kamu juga kepincut sama kegantengan seorang Rega ini?”
“Enak aja. Kamu gak level buat aku ya. hahah”
“Hahahah, yah begitulah. Dan itu adalah perhatiannya yang terakhir sebelum pada akhirnya dia pindah sekolah dan tempat tinggal. Setelah dia pindah, kami jarang brtemu. Dan aku Cuma ngerasa seperti kucing yang kehilangan induknya. Gak ada yang jagain lagi.”
“Em,,, pantes ya kamu ngelamun?! Ditinggalin orang secantik itu sih. Hehehe”

“Dan parahnya, beberapa saat setelah dia pindah, aku dapat kabar dia gak lanjutin sekolahnya. Dia menikah dengan pacarnya semasa SMA. Memang, pacarnya sudah jadi pengusaha, tapi sayangnya saudaraku itu sampai gak lulus SMA.”
“Wah wah wah,,,, lumayan juga ya nyalinya? Hehe, usia segitu udah nikah.”
“Itulah kenapa aku sekarang ngelamun. Aku gakmau orang yang berarti di hidupku mengalami hal yang sama. Aku gakmau kamu sampai hilang seperti dia. Aku pengen jagain kamu terus Ya. meski aku tahu seorang Tia tidak akan semudah itu terjatuh, tapi aku tetap mengkhawatirkannya.”
“Ciye....”
“Buk!” sebuah buku dilempar oleh Tia ke kepalaku. Dan segeralah ia lari menjauh.
“Woooo awas ya kalau sampai kekejar! Haha”
Begitulah sekerling kisah antara curahan hatiku pada Tia sang sahabat. Aku yang pernah merasakan perhatian dari sepupuku yang tiada kudapatkan dari orang lain, kini hadir lagi dari seorang Tia. Bahkan mungkin bisa lebih dari yang dulu pernah aku dapatkan. Hanya saja, perasaan ingin untukku menjaganya itu tidak pernah bisa tergantikan oleh apapun.
***
“Ga, mau gak kita cobain naik itu?” tanya Tia sambil menunjuk sebuah wahana di pasar malam yang sama sekali tak membuatku tertarik.
“Iya kak, ayo! Jangan-jangan kak Rega gak berani naik itu ya?! heheheh” adik Tia memaksaku untuk mengikuti kakaknya.
“Hehhe, aku di sini aja. Aku gak suka naik begituan. Pasar malam aku hanya suka buat jalan-jalan dan ngobrol sama temen.” Jawabku yang tahu kalau dompet yang kubawa memang tipis layaknya silet.
“Yah, kakak payah. Masa gakmau ikut?! Nanti gak ada yang jagain kak Tia kalo pas naik.”
“Heh? Apa maksudnya?!” tanya Tia terheran-heran.
“Kan kak Rega selalu jagain kakak. Aku aja nyaman kalo kakak lagi bareng kak Rega.” Jawab adik Tia yang masih begitu lugu dengan pipi yang manis layaknya es cendol.
 “Kan sekarang kak Tia naik sama adiknya yang udah gedhe ini to? Nanti kak Rega nungguin kalian di bawah. Jadi kamu gak perlu takut kak Tia kenapa-kenapa.” Jawabku pada anak manis yang terlihat begitu menyayangi kakak perempuannya itu. Sementara Tia masih melamun mendengar ocehan adiknya.
“Oke deh, tapi awas ya kalau kak Rega sampai pergi?! Nanti bakal berurusan sama aku.”
“Siap ndan! Jaga kak Tia ya pahlawan kecil.!”
“Ayo kak, buruan beli tiket dan naik. Heheh, kasihan kalau kak Rega kelamaan nunggu.”
“Iya-iya, hati-hati ini agak ramai. Nanti kamu jatuh loh.!” Kata Tia yang digandeng oleh adiknya mengarah pada loket pembelian tiket.
***
“Hoek... hoek... hoek...”
“Nah beneran kan kak? Kak Rega sih gakmau ikut naik. Jadinya kak Tia muntah-muntah deh.”
“Hehehe, ini tisunya.” Lagakku memberikan sebungkus tisu pada Tia yang begitu turun dari wahana kurang jelas itu muntah-muntah.
“Ayo kak kita jajan. Aku pengen burger. Em, dua ya kak? Buat adik juga di rumah.”
“Bentar dik, ini kak Tia lag tepar gini kok kamu tega banget?” kataku.
“Yaudah, aku minta uangnya aja ya?! tak beli sendiri. Biar kak Tia dijagain sama kak Rega aja. Hehe”
“Ya udah, ini. Hati-hati ya!” pesan Tia pada adiknya.
Begitulah malam bertabur bintang di alun-alun balai kota yang masih terasa begitu dingin walau dengan berbagai gemerlapnya pasar malam. Sepertinya ini juga bukan merupakan malam yang baik bagi Tia yang mengeluarkan seluruh isi perutnya hanya karena sebuah wahana tak jelas di pasar malam.
***
“Kak, makasih ya udah mau jagain kak Tia selama aku jajan! Besok aku sewa kakak buat jadi pengawal kak Tia kuliah ya? kalo udah lulus SMA jangan kabur ya kak?!”
“Kamu ini, apaan sih? Berani bayar kak Rega berapa emang?” tanya Tia pada adiknya sambil mencubit pipinya yang masih terlalu tebal untuk digelembungkan.
“Hahaha, ih satu pahlawan kecil ini selalu berulah ya?!” sambil aku menggendong adik Tia yang masih belum lebih dari 6 tahun itu.
“Loh, aku serius loh kak. Aku gakmau kakak aku yang cantik ini kenapa-kenapa.”
Dengan kalimat singkat dari anak kecil itu, aku hanya bisa terdiam. Mungkin ini adalah arti dari persaudaraan sedarah yang selama ini tidak pernah aku rasakan. Aku yang memang dilahirkan di dunia ini tanpa saudara sedarah, hanya bisa terdiam melirik manusia lainnya bercengkrama dengan saudara mereka. Dan bahkan aku hanya berpura-pura mengerti tentang ikatan mereka.
Aku yang dulu berpikir kalau memili saudara hanya akan mengurangi kebebasan yang kita miliki, kini perlahan mengerti tentang kakak dan adik yang saling menyayangi dan menjaga. Tentang satu ikatan yang begitu kuat dan tiada bisa aku mengerti hnya dengan sebatas akalku.
Tapi, kini aku sedikit bersyukur. Hidup di antara Tia dan adik-adiknya membuatku merasa memiliki saudara yang berikatkan darah begitu kuat. Bahkan, Tia yang selalu menasehatiku tentang jalan yang akan kutempuh, membuatku sedikit merasa memiliki kakak yang setuhnya.
“Iya-iya, kakak janji bakal jagain kak Tia pas kuliah juga. Tapi kamu juga janji buat belajar yang rajin ya.! biar pinter kayak kak Tia.?!”
“Oke, aku pegang janji kak Rega.”
“Siipp..!! sekarang waktunya kita puuuu....laanggg.”
“Woey-woey... hahahah” teriak anak kecil yang menemani langkahku bersama tia di malam yang penuh taburan bintang ini ketika aku mengangkatnya dan menaikkannya ke pundakku.
Akhirnya malam penuh bintang di langit dan bumi itu berakhir. Kami pulang menuju rumah masing-masing dengan diawali mampi ke rumah Tia lebih dahulu untuk mengantarkan jagoan kecil yang kelak akan memimpin bangsa yang penuh kesedihan ini.

No comments:
Write comments

Interested for our works and services?
Get more of our update !