Friday, June 12, 2015

Aku Ingin Kamu Bersamaku di Surga-Nya



Aku masih sama, namaku Rega. Dan aku juga masih sendiri, tahu kan?? Atau lebih kerennya disebut aku masih jomblo. Di sini aku masih berpetualan dalam hari-hari indahku dengan sejuta pilu yang akan mengusik hidup kalian.
Dan masih sama juga, aku tetap memiliki rating tertinggi alam urusan tempat curhat karena aku bukan orang yang mudah sakit hati ketika mereka mengataiku, kususnya masalah kejombloanku selama ini.
“Ga, pernah gak loe ngerasain apa yang gue rasain ini??”
“Jelas enggak lah, orang aku denger masalah kamu aja belom.”
“Hmm.....”
“Kenapa?”
“Gak jadi.”
“Yah, jangan ngambek dong neng! Gitu aja ngambek. Emang kenapa lagi?” tanyaku pada teman yang tidak kurang dari 17 tahun aku mengenalnya itu.

Plak!!!!
“Gue puas nabok LOE Ga!!!”
“Gitu amat sih, emang harus aku juga korbannya?” sambil mengelus pipiku yang baru aja ditabok seorang makhluk luar angkasa bernama Ika.
“Apa sih salah gue? Sampai orang tua gue gak mau peduli sama apa yang uge mau?! Apapun yang gue lakuin selalu saja salah di mata Ibu Gue! Terus kapan gue bisa dewasa?!”
“Kamu udah punya KTP kan?” tanyaku dengan sepenuh kepolosan senyum dan tetap dengan mengelus pipi merahku.
“Maksud Loe?”
“Kalo udah punya berarti loe udah dewasa.”
“Heeeehhhhhh,.... ngomong sama orang bodoh kayak loe itu ngesiln ya!!”
“Lupa ya? Aku pernah dapet nilai 9,75 di matematika. Punya loe berapa ngatain aku bodoh?”
“#*____-#@&”
“Kenapa diem? Bagusan punya aku kan? Kalo gitu siapa yang bodoh?”
“Capek.”
“Sini bu, aku pijitin. Haha, ada masalah apa lagi sih sama ibu kamu?”
“Hehhhh,,, udah sadar belum? Kalau belom aku gakmau cerita apapun.”
“Hahaha, udah kok. Tenang, udah waras seutuhnya.”
“Tadi malam, selepas gue mandi, ketika gue baca al kitab yang baru aja dikasih sama Frather (calon pastur) kepadaku, tiba-tiba ibu mengambilnya dan memintaku untuk belajar dengan kata-kata yang begitu kasar. Padahal, aku baru saja ingin membuka dan mendalami apa yang ada di dalamnya.” Papar gadis berambut sebahu dengan mata menawan yang duduk di sampingku dekat taman kampus tercinta.
“Dia, Ibuku, tidak suka aku membaca tentang Al Kitab agamaku. Entah kenapa.” Lanjut Ika padaku di sore yang menjelang senja dengan menampilkan warna langit merah itu.
“Apa aku boleh berbicara tentang seseorang?” tanyaku padanya.
“Siapa?” dengan wajah yang mulai menegang bagai orang yang mau pergi ke medan perang.
“Almarhum...... Ayahmu.”
“Oh, kenapa?”
“Tapi aku minta satu hal, dengarkan dengan baik dan jangan menangis. Atau kau akan biarkan tangan kasarku ini mengusap air matamu yang berlinang.”
“Tentu. Tak apa. Ceritakanlah.” Jawab Ika, seorang yang telah ditinggalkan oleh ayah yang sangat dekat dengannya 1 tahun yang lalu.
“Dulu, ketika aku bertemu dengan ayahmu beliau bercerita amat banyak. Mungkin hal yang tak pernah diceritakannya pada orang lain. Entah alasannya apa. Tapi beliau menceritakan panjang lebar tentang masa kecilmu.”
“Ketika kamu berusia 5 tahun, ayahmu menitipkanmu kepada seorang yang tinggal di samping rumahmu. Dia adalah seorang Hafiz Al Qur’an yang telah berpetualang dalam menyebarkan agama Islam. Dahulu ayahmu berharap kau bisa menjadi seorang Hafiz. Dan ketika kau pergi bersamanya ayahmu selalu merasa tenang. Karena tahu putri kesayangannya itu berada di tangan yang tepat. 5 tahun telah berlalu, ayahmu tak pernah meragukan apa yang telah diajarkan orang itu pada anaknya. Dan baru sadar ketika usiamu beranjak 11 tahun, ternyata orang tersebut telah lama meninggalkan Islam dan berpaling ke agama yang kamu pegang teguh hingga sekarang. Bahkan, ibumu kecewa dengan ayahmu. Dan pada akhirnya bersegeralah beliau mengambilmu dari tangan orang itu.”
“Dia selalu mencoba dekat denganmu semenjak saat itu. Pekerjaan yang selama itu membuatnya jauh darimu, perlahan beliau tinggalkan. Ayahmu berusaha sekeras mungkin untuk tetap bisa berada di sisimu, ketika kamu merasa sedih, ketika kamu merasa sendiri, dan ketika kamu menangis. Semua itu beliau lakukan semata hanya agar kamu bisa kembali bersamanya dalam satu ikatan keyakinan yang kuat, dan ibumu juga bisa memaafkan beliau.”
“Ayahmu, dan ibumu adalah orang yang amat kuat dalam menjaga keyakinan atas agama. Tapi Tuhan berkehendak untuk menguji mereka dengan memalingkanmu dari keyakinan yang mereka pegang teguh.”
“Ayahmu, beliau merasa lemah karena perasaan bersalahnya yang menitipkanmu pada seorang yang dianggapnya akan mengajakmu mendekat kepada agama yang dianutnya. Tapi justru membawamu pergi jauh meninggalkan harapan yang telah lama diimpikan menjadi nyata. Lalu ibumu, dengan kemarahannya yang teramat mendalam beliau mencoba mengingatkanmu untuk kembali pada keyakinan yang selama ini dipegangnya dengan caranya yang seperti saat ini.” Paparku pada Ika yang nampak terdiam saat aku menceritakan panjang lebar apa yang pernah ayahnya katakan padaku.
“Beliau, melanjutkan ceritanya. Beliau tak mampu berlaku keras terhadapmu seperti ibumu. Kamu adalah anak yang amat disayanginya, ya mungkin walaupun keyakinan kalian berbeda, tapi darahnya tetap mengalir dalam ragamu. Sebuah ikatan yang tidak mungkin bisa dihapuskan.”
“Apalagi ayahmu adalah seorang yang taat beragama. Ia ingin sekali anaknya mendapatkan nikmat sang pencipta seperti yang beliau dapatkan. Dalam Islam kita diajarkan untuk mendoakan sesama muslim di dunia. Dan doa itu selalu dipanjatkan secara berkala oleh seluruh umat muslim di dunia ini. Selain itu, doa bagi sesama muslim akan selalu menembus langit bahkan sampai setelah nyawa dan raga berpisah. Tapi, tidak bagi pemeluk agama lain. Doa bagi pemeluk agama lain akan berhenti menembus langit ketika yang didoakan telah wafat. Ayahmu ingin engkau dapat mendoakannya, dan engkau juga memperoleh doa dari seluruh umat muslim di seluruh dunia ini.” Tegasku atas alasan ayah Ika yang selalu mencoba dekat dengannya.
Masih sama, keadaan tetap hening seperti ketika aku berkata untuk menceritakan tentang almarhum ayah Ika yang meninggal sekitar 2 tahun yang lalu. Aku memang bukan malaikat yang bisa membangkitkannya, tapi aku akan berusaha untuk menjaga temanku tetap tersenyum. Walau aku harus membuatnya menangis lebih dahulu. Hehehe
“Hey... dari tadi kau diam saja? Apa kau mulai...”
“Gak kok. Tenang aja, gue cuma lagi pengen diem dengerin cerita loe.”
“Jadi, jangan pernah berfikir ibumu itu jahat. Ia hanya ingin kamu kembali bersamanya, pada keyakinan yang ia peluk sejak kamu lahir sampai ada ujian dari tuhan untuk memalingkanmu pada keyakinan lain. Bagiku, semua agama, semua keyakinan itu baik. Tapi bagi almarhum ayahmu, beliau ingin keluarga yang dicintainya itu dapat berkumpul kembali di surga-Nya kelak. Beliau berharap kamu mau kembali pada keyakinan yang sama dengan apa yang beliau peluk. Aku bukan seorang ahli fikih ataupun pastur, aku hanya temanmu yang mengenalmu sejak kecil dan secara tidak sengaja mendengar ceritamu dari almarhum ayahmu. Hanya itu yang dapat kukatakan....”
Demikian pungkas kalimat ceritaku yang aku sadari, bukan kalimat yang baik. Aku juga sadar aku bukanlah seorang syeikh ataupun kyai. Tapi itulah kenyataan bahwa umat muslim selalu saling mendoakan. Aku juga tidak mau ikut campur dengan agama orang lain, ini hanya tentang Ika yang diharapkan oleh almarhum ayahnya bisa berkumpul bersamanya di surga kelak.
Waktu semakin gelap, kumandang adzan maghrib juga telah terdengar.
“Waktunya kita tinggalkan tempat ini Ka. Kita harus pulang, nanti kamu dicari ibumu.” Ajakku lirih pada ika yang masih sedikit melamun atas ceritaku di dekat taman kampus tercinta itu.
“Iya....” jawab Ika pelan dengan masih setengah melamun sambil mengemasi barang bawaannya.
***
Tiga hari telah berlalu, entah kenapa aku jadi jarang bertemu dengan Ika sejak saat itu. Dan, benar. Kali ini aku menemui seorang gadis nampak begitu manis dengan kerudung warna merah mudanya berpadu dengan gaun lembut yang nampak memanjakan mata. Ika, benar. Dia kini beralih menjadi seorang muslim dan berjalan ke arahku.
“Ga, makasih ya... berkat kamu aku jadi tahu alasan ibuku mengambil Al Kitab dan menyuruhku belajar malam itu. Aku juga telah bilang kepada frater kalau aku mau menjadi muallaf (orang yang baru masuk islam). Dan beliau tidak keberatan jika memang itu yang aku inginkan serta mampu membuatku tenang.
***
-The End-

No comments:
Write comments

Interested for our works and services?
Get more of our update !