Saturday, March 28, 2015

Kau Boleh Bilang Apapun



Malam kini tiada terasa sunyi lagi, angin berhembus dengan kencangnya menembus batas jiwa dan sejukkan raga. Bintang kini bersinar amat terang temani bulan yang sesekali meredup tertutup oleh awan. Mimpi-mimpi mulai terukir di kisah yang baru tanpa ada seorang pengganggupun. Bebas berangan tanpa peduli ditertawakan. Kisah baru itu kumulai dari saat ini. Saat dimana aku benar merasa sebagai barang berharga bagi orang lain. Saat dimana tatapan mata ini hanya untuk menjadikanku seolah sang juara, bukan taatapan mata agar diingat oleh orang atau sebatas mendapat perhatian.

“Hey, apa yang kini ada dalam anganmu teman?” tanya hati kecil ini pada diri yang tengah menghadap kepada cermin bergelombang.
“Tidak, aku hanya mencoba untuk benar-benar mengerti siapa aku dan bagaimana yang seharusnya aku lakukan. Hanya sebatas ingin tahu seberapa aku dapat dihargai orang lain.”
Mimpi memang tak selamanya bisa menjadi nyaa, namun setidaknya ada perjuangan yangkelak dapat kita ceritakan. Akau memang bukan sang juara, aku hanyalah pecundang bagi diriku sendiri dan tiada yang mampu mengerti betapa aku merindukan saat dimana namaku dielukan di depan khalayak. “Entah, aku sendiri lupa kapan terakhir hal itu terjadi. Atau bahkan memang tidak pernah. Aku merindu akan hal ang tidak pernah aku lakukan.”
Ini bukan tentang cinta teman, ini hanya seuah narasi fiksi yang tiada kaitannya dengan hidupmu, hidupku, atau hidup siapapun di dunia ini. Kau kelak asti akan menemukan hal yang jauh lebih baik dari ini. Iya, suatu saat nanti.
“Lihat dirimu sekarang! Dulu kau pernah menjadi emas yang tenggelam milik ibu pertiwi. Tapi kini, siapa dirimu? Adakah yang mengenalmu?”
“Ya, mungkin memang tidak ada yang mengenalku untuk saat ini. Tapi akan kupastikan suatu ketika, namaku akan terpajang di setiap pintu rumah. Setiap barang yang dsukai oleh anak-anak.”
Mungkin ini kahayalan yang terlalu tiada berarti, namun aku yakin. Tidak akan ada mimpi yang tersiakan.
“Ehem,,,,,”
Bidadari malam nampak jelita berkacamata menghampiri sang pangeran kesepian dalam keheningannya. Nampak wajah sibuk bak tembok rata tak peduli akan apa yang ada di sampingnya. Hanya masih sibuk menatap langit malam yang penuh akan bintang dan diiringi bias indah sinar bulan pada mata tajamnya yang nampak begitu seius menatapnya.
“Hey, jangan ngalamun lah..... kau tak lihat ada bidadari cantik duduk disampingmu?”
“Hmmmfftttt......” hembus nafas panjang dari rongga pernafasan layaknya truk membuang asap dari knalpot yang tengah distarter.
“Ah, kau tak pernah berubah sejak dahulu. Sejak zaman di mana api masih menyala di tembok-tembok penduduk. Kurang lamaKah waktu untukmu menjadi seseorang yang lebih menyenangkan? Cobalah kau hibur gadis manis mempesona ini. Jangan kau siakan senyum manis yang ada di sampingmu. Kapan lagi ada yang mau mendekatimu? Malam sunyi senyap hening seperti ini, kau masih saja dingin pada bidadari yang turun dari jannah.”
Jannah, itu tempat yang ada di atas sana. Pernah kau lihat bintang, bulan, dan awan bersama menghias kegelapan untuk sekedar menghiburmu? Itu adalah Jannah yang mampu menghiburku saat ini. Jangankan bidadari, seribu penghuni surga pun tak mampu menarik mataku saat ini. Aku tengah menikmati keindahan alam ciptaan-Nya. Andai kau tahu, kau adalah salah satu keindahan itu.” Tersenyum sambil berbaring menatap senyum bidadari surga yang duduk di samping pria pengagum langit malam.
“Asal kau tahu, kau tak perlu berputar untuk mengatakan betapa indah dan manis senyum di bibirku. Tak perlu kau ukir kata dan kalimat di atas air hanya untuk menyenangkanku. Cukup kau gores tinta di langit yang gelap tanpa bintang, kau pasti mampu mengabadikan senyum dalam binar mataku.”
“Tidak, aku tidak akan pernah melakukan apapun untuk menyenangkanmu. Kau hanya fajar yang datang saat aku merindukan pelukan hangat ibuku, kau hanya langit jingga yang tiada berarti jika tak dilihat dengan kegalauan, karena hanya kau yang mampu hapuskannya.”
Bait demi bait di antara kami terus bersahutan layaknya pembacaan puisi oleh ribuan penyair. Kami hanya berdua ditemani angin malam dan sinar remang sang kartika penerang dunia. Mungkin langit pun iri melihat kami. Rega dan Tia. Itulah nama kami sang penyair di atas.
“Hoooooahhhhh..... lama kelamaan syairmu membosankan ya!”
“Kau berkata layaknya juara penyair, kau pun hanya tak lebih dari amatiran bukan?” ledek Tia sang penyair pada sahabat karibnya.
“Ah, biarlah. Aku mau pulang......”
“Hey, aku belum selesai bicara! Hey! Hey! Takbisakah kau hargai wanita?”
“Dalam hidupku tiada wanita selain ibuku!”
“Diam kau!” lanjut Rega seraya meninggalkan Tia.
“Plakkkkkk!!!!”                                                                                                                                        
Terdengar suara keras di sekitar kepala rega. Nampaknya sepatu hak tinggi milik Tia berhasil mendarat tepat di ubun-ubun Rega.
“Ahhhh,,, apasihhhh...???”
“Kau benar-benar perlu didik ya!”
“Diamlah nenek!!”
“BAMMMMM....!!!!!”
LAGI. Terdengar suara aneh dari kejauhan. Suara yang amat mengerikan.
“Wushhhhhh.....” Rega segera terbang mendekat pada asal suara itu.
Tia, ia hanya terdiam dan menatap sahabatnya.
“Wuusshhhhzzzzz..... ada apa ini? Siapa yag melakukannya?? Akan kubalas dia.” Gerutu Rega sambil melayang di udara tepat di atas kobaran api besar yang membakar sebuah angkringan tempat ia biasanya bertemu dengan nasi kucing kesayangannya.
“Mr. Oh, lihat!! Di atas ada Mr. Oh. Dia akan menangani semua ini.” Terdengar suara beberapa orang menyahu-nyahutkan nama aneh ketika melihat Rega melayang di angkasa.
“Weeehhhxxzzzzztt..... Mr. Oh melayang.......” sambil berteriak nampaknya Rega berusaha mengejar sang pembuat onar yang hanya mengendarai sepeda motor dan membawa sekarung uang beserta nasi kucing dari angkringan itu.
“Ciiiaaaattt.... kutangkap kau!”
“Cling....” berkat batu akik berwarna biru yang dipakainya, pencuri itu berhasil menyembunyikan dirinya dari Mr. Oh.
“Hey.... di mana? Sialan. Dia bisa menghilang rupanya!” berhenti dan berdiri di tengah jalan yang amat remang akibat tak ada kendaraan melintas.
“Piiiiiimmmmmmmm.... pimmmmm.....”
“Whenggg....!!!”
Sebuah mobil membunyikan klaksonnya ketika hampir menabrak Mr. Oh yang kehilangan teman bermainnya.
“Tadi itu hampir saja Mr. Oh menjadi cerita anak kecil belaka.”
“Sekarang,, di mana aku harus mencari siluman kucing itu.?(siluman kucing=perampok nasi kucing)”
Melayang di angkasa, Rega masih saja bertingkah aneh tengok kanan-kiri untuk mencari ide atau bahkan bisa melihat sang pemberontak itu.
Malam kini semakin larut, pencarian Mr. Oh di gorong-gorong tak ada hasil.
“Mungkin aku perlu seseorang untuk membantuku. Atau ini hanya soal waktu saja? Tapi semua ini meresahkan masyarakat. Mr. Oh tidak bisa tinggal diam. Wushhhhhh....” pergi menuju ke suatu tempat.
***
“Permisi? Guru? Guru ada di mana?”
“Bang!!!!!” sebuah palu pande besi terlempar tepat di muka Mr. Oh.
Tanpa pikir panjang ia langsung pingsan terkenanya.
“Salah siapa larut gini dobrak-dobrak pintu. Gak tau orang lagi anget tidur apa?!”
“nguuuunggg---- nguuungg---- ciluk ba!!”
Tiba-tiba dari sebuah nyamuk kecil munculah sesosok Mr. Oh. Hanya saja sekarang ia nampak agak kehilangan gigi. Nampaknya lemparan sang Guru masih ada dampaknya juga walau tak mampu membuatnya pingsan.
“Weeee e e e..... Kurang?” tanya sang Guru.
“Ampuuunnn ini gigi sudah kayak kakak tua ....”
“Keluar! Besok pagi kita bicarakan.”
“Ini sudah pukul 03.00 dini hari guru. Kurang pagi kah?”
“Yasudah, minum ini!” menyodorkan botol kecil kepada Rega yang tidak lain tidak bukan adalah Mr. Oh.
“Glek,,, glek,, glek... ini apa guru? Obat pencari makhluk halus?” tanpa pikir panjang, minuman berkapasitas 250 ml itu langsung habis ditelannya.
“Itu supaya kau dapat tidur, Nak!”
“Blang!!!” seketika pintu dibanting di depan muka Mr. Oh dan ia langsung tertidur pulas bagaikan di hotel berbintang tujuh.
***
Masih bersama aku, Mr. Oh di pagi hari. Tiba-tiba ada yang menepuk pundakku layaknya aku seorang jenderal yang tengah pingsan di medan peperangan. Perlahan mataku terbuka dan dengan remangnya kulihat sesosok kecil berbaju putih dengan jenggot yang menjulur panjang bagaikan belalai gajah yang terurai dengan indahnya. Nampaknya ia adalah guruku yang tengah berada dalam wujud uniknya.
“Bangun! Ini sudah jam 9 pagi. Kapan kau mau menangkap makhluk halus? Ia akan lebih sulit dilihat jika malam.” Paksa Guru agar ku mau membuka mataku.
“Wushhhhtttt......”
“Brak!!!” tiang listrik kutabrak dengan semangatku yang bangun kesiangan untuk kuliah.
“Sreett.... sretttt....”
Dia, lagi-lagi guru menyeretku untuk masuk ke dalam rumahnya dan menyodorkan sebuah bungkusan yang aku tak tahu apa isinya.
“Ini adalah ramuan kuno Jawa. Jika kau gunakan ini untuk mandi tiga kali sehari kau akan mampu melihat makhluk halus.”
“Wow, apakah juga bisa tembus pandang pada baju wanita?” tanyaku dengan gaya sok lugu dan penuh harap.
“Bisa, jika kau terbunuh saat bertempur.” Jawab Guru yang memang sangat religius itu.
>_< dengan tampang lusuhku yang ketika itu belum mandi aku mulai berfikir agak nakal, mulai merasa ada yang tidak beres dengan angin yang sepoi menerpa jiwaku.
“Pergilah. Kampus tercintamu membutuhkanmu Nak.” Kata makhluk mungil yang mengajariku cara bertahan hidup yang benar itu.
“Baik, doakan aku Guru.” Sambil mengangkasa itu permintaan terakhirku pada guru yang selalu kuidolakan.
***
“BOOOMMM.....!!!”
Suara ledakan mengguncang kampus tercinta yang diidolakan oleh ribuan jiwa di dunia. Semua orang berhamburan keluar dari segala arah. Tak peduli dari toilet, ruang kelas, ataupun warung burjo di pinggir jalan, semuanya berhamburan keluar layaknya Gunung Merapi meletus seperti pada legenda.
“Mungkin, ini pemandangan seperti ketika krakatau meletus dulu.”
Aku yang masih mengangkasa hanya terdiam mencoba merenung bagaimana caraku untuk meluluhkan hati sang pembuat ledakan besar itu.
“Di mana makhluk itu? Ledakannya bisa dilihat dengan mata telanjang tapi aku tak mampu menemukannya. Apakah ramuan Jawa itu tak manjur lagi?” gerutuku di ketinggian 5.000 kaki.
“Ngeeeengggg.....”
“Gilak. Lu nyopir pesawat apa lagi latian tempur? Jangan-jangan lu mau bunuh gue. Kita temen sob!”
Sepertinya ini memang bukan hariku. Mengangkasa saja ada pesawat yang mau menabrakku. Pantas banyak banget yang jatuh ke air. Yang nerbangin aja belum pada bisa.  
“Cusssss......” sebuah sinar memancar kearahku dan tepat mengenai dada busungku.
“Brukkk...” aku terjatuh ke lantai di antara ribuan orang yang tengah melihat pertempuran kami.
Makhluk halus itu kini perlahan dapat kulihat walau masih agak buram. Mungkin ini disebabkan karena ramuan itu baru kupakai mandi satu kali.
“Mr. Ohhhh...... selamatkan kami! Tangkap dia!” teriak seorang perempuan yang ketika kulirik benar-benar layaknya bisasari dari surga.
Akhirnya pertempuran sengit di antara kami berujung pada ledakan-ledakan maha dahsyat di udara. Mahasiswa yang kala itu menyaksikan masih terheran-heran akan siapa yang berperan menjadi sesosok pahlawan ini. Akhirnya dengan sebuah tebasan tangan layaknya Ultraman makhluk halus itu berhasil kulumpuhkan. Nampaknya ia adalah sang petapa yang sering kulihat di got dekat rumahku.
Shriinnkkkkkkk.........!!!
“Akhirnya kau tewas juga..... ah tidak, belum, kau belum tewas, kau hanya pingsan. Paling tidak itu sudah cukup untuk membuatku mengambil batu akik milikmu!”
“Ciyuuuzzz.......” kini aku turun ke bumi layaknya Krishna yang ingin menggembala sapi.
Tiba-tiba ada sesosok perempuan cantik hadir di sampingku. Tak lain tak bukan dia adalah gadis idamanku ketika di kampus. Seorang yang tak pernah menengok kearahku walau selalu kulirik dan hadir dalam mimpiku. Seorang yang selalu kudamba ditengah kesendirianku.
“Hay,,,,,?” sapa manja gadis manis nan jelita itu kepada Mr. Oh yang masih memakai baju dengan lengan gosong akibat terbakar di pertempuran barusan.
“Kamu tadi keren banget!! Aku boleh minta sesuatu gak?” tanya gadis itu kepadaku.
“Apa? Mr. Oh ada di sini untuk melayani masyarakat. (Seperdi DPR aja, DPR aja gak segitunya juga)”
“Bolehkah saya menciummu??”
Sambil merasa deg-degan gak jelas dalam hati, aku mengangguk dan berkata iya.
Akhirnya, ciuman manis darimu kudapatkan juga.
“Plak!!!!”
“Woi bangun!!! Bayar tuh nasi kucig Loe!” tiba-tiba ada tamparan keras di pipiku dan seketika ciuman dari gadis idaman itu sirna.
Perlahan mata ini terbuka, melihat sesosok yang tinggi semampai dengan rambut terurai panjang dan tak terlupakan kaca mata mungil yang membuat wajahnya nampak begitu manis. Tia, ya, dia yang membangunkanku dari mimpi indah itu.
“Apasih Loe???!! Gue habis nyelametin Universitas Gadjah barusan. Gue hampir aja dicium cewek.”
“Heh, bilang aja kalau Loe mau gua cium! Bangun, ini udah malem, angkringannya dah mau tutup.” Tambah Tia yang nampaknya agak jengkel. Atau memang tingkah dan gayanya yang seperti itu.
“Apa? Bukannya angkringan ini abis dibakar?”
“Ntar Loe yang gue bakar kalau sampe di rumah! Gue di sini sendirian dalam kesepian, Loe malah enak-enakan tidur.”
Jadi, kini aku sadar. Semua itu hanya mimpi.
“Loe tadi pingsan kena sepatu gue.” Jawab Tia singkat, padat, merakyat ke gue yang hampir aja dapet ciuman dari cewek manis idaman gue. Ya meskipun memang gak bisa ngalahin manisnya sahabat gue yang ini, tetep aja dia idola gue.
Satu pelajaran yang bisa gue ambil dari ngangkring malam ini. Khususon buat kamu-kamu semua yang ngerasa cowok tulen, kalau pergi sama cewek jangan sampe lupa bawa helm. Daripada kena PHP akibat kelempar sepatu cewek terus pingsan dan ngimpi hampir dapet ciuman tapi gak jadi, mending loe make helm bak bang Rossi yang mau mengudara.
***
“Bunga, kini bermekaran lagi. Menyambut aku kembali ke kehidupan yang fana ini. Jauh dari masa laluku bersama sang sahabat karib yang jelita, entah ketika malam atau ketika mentari tetap bersinar. Dia, akan tetap jelita, dan aku, akan tetap menjaganya.”
“Syair lagi? Ayo pulang. Gue kangen loe boncengin nih.”
“Ah, modus cewek itu banyak. Apalagi Loe, bilang aja manja gakmau pulang sendiri. Rumah juga Cuma RT sebelah gitu.”
“Hehehehe, Loe masih tau aja Ga! Yok buruan, nasib jomblowers kayak loe emang pas di sini. Jadi budak gue aja. Hehehe.”

No comments:
Write comments

Interested for our works and services?
Get more of our update !